Pages

Monday, April 11, 2022

Ngintip Desa Butuh Kaliangkrik, Yang Katanya Nepal Van Java

Udah ada berapa 'van' di Indonesia? Paris Van Java, Nepal Van Java, apa lagi? Fenomena yang terjadi, sesuatu di Indonesia dianggap mirip dengan hal ikonik di luar negeri. Kali ini saya ke salah satunya. Sebuah desa di Magelang, terletak di lereng gunung Sumbing. Namanya desa Butuh. Kata orang, mirip dengan tampang Namche Bazaar di Nepal.


Selain memang penasaran dengan tagline 'Nepal Van Java', pertama kali saya melihat potret Desa Butuh ini di media sosial ....breathtaking. Area pemukiman terhampar di lekukan gunung yang gagah dengan atap warna-warni.


Info tiket dan lokasi ada di akhir tulisan. Selamat membaca 🙂


Dari Jogja pagi hari, mampir sebentar di Geblek Menoreh (baca pengalaman skuteran di pematang sawah di sini), sampai di Magelang sore hari. Semalam bermalam (rekomendasi penginapan murah dan nyaman di Magelang), setelah subuh kami langsung hit the road menyusuri petunjuk google maps ke titik 'Nepal Van Java'.


Mulai dari gelap sampai berkas sinar matahari menyingsing, jalanan aspal kadang berlubang. Tapi tak mengapa, kami sangat menikmati suasana dan pemandangannya. Sejuk menerpa wajah saat mendekati daerah gunung. Kanan kiri terbentang sawah dan ladang. Hanya sesekali berpapasan mobil, terasa bersih menghirup udara.



MaasyaaAllaah, cantik sekali.

Ada juga saat melewati jalanan hutan yang menanjak. Adrenalin agak naik, seru juga!


Mungkin sekitar setengah jam kemudian, akhirnya kami bisa melihat bahu dan puncak gunung Sumbing yang perkasa. Tak bosan saya mengarahkan mata kamera ke arahnya, foto maupun video (yang setelahnya diperhatikan, mirip semua hehehe).


Istirahat sebentar, kami berhenti di pinggir jalan, melemaskan otot. Sengaja berhenti di titik yang 'bagus', sekalian berfoto. Beberapa kali orang orang lewat memerhatikan kami, saya sumringah aja. Gapapa kaya orang udik yang ga pernah liat gunung, ya gimana enggak, baaaguss banget MaasyaaAllaah.



Lokasi ini tepat berada di pinggir jalan.


Sebenarnya hari-hari ini masih sering hujan, dan semalam berdoa banget dikasih cuaca cerah sama Allah. Dan......waaaa merasa dikabulkan huhu. Matahari ga tertutup awan, langit biru memesona, vivid sekali variasi hijau pada gunung. 


Lanjut perjalanan, sambil saya masih terus-terusan cekrak-cekrik. 


Jalan aspal, ada yang retak. Pinggir jalan berjajar tanaman talas, daunnya lebar berwarna hijau segar.


Saya pernah baca di blog teman, dulunya akses di sini buruk sekali. Jalanan tanah berbatu. Kalau musim hujan....wah gausah ditanya, licin dan sulit banget dilewati. Alhamdulillah waktu kami kesana jalanan sudah beraspal bahkan sampai ke gang-gang desa Butuh. 


Belum juga sampai, kami berhenti di ladang daun bawang yang sangat luas. Pertama, saya mengagumi wujud daun bawang. Gemuk dan besar-besar! Terlihat segar dan lezat. 


Berhati-hati jalan di antara pematang kebun, cari sudut yang bagus untuk ambil gambar dengan gunung Sumbing di belakang. Dari kejauhan saya melihat sekelompok petani yang memperhatikan kami (ha iya gimana wkwkw). Jujur agak kikuk, saya juga takut jatoh dan nginjek daun bawangnya heuheu.

Mau nyapa dan ngobrol, tapi aslinya kami tuh agak tergesa sama waktu checkout (hadeu wkwk). Jadi saya urungkan niat.


Langsung pacu motor lagi menuju Desa Butuh nya. Melewati pos masuk, tidak ada yang jaga. Mungkin sebabnya hari Kamis, weekdays. Harusnya bayar 10k, dan motor diparkirkan.


Dengan begitu kami seperti menyatu dengan penduduk yang wara-wiri memulai hari untuk meladang dengan sepeda motor maupun jalan kaki. Saya memperhatikan 'outfit' nya yang khas: sepatu boots, topi caping bambu, dan ember berisi peralatan atau cangkul.



Ada pula beberapa kelompok pelajar dengan seragam yang berjalan beriringan menuju sekolah.


Seragamnya warna merah.

Di udara yang dingin, kicauan burung......such a lovely morning.


Awalnya biasa aja tuh jalannya. Makin masuk, makin sempit, dan makin menanjak! Wah saya deg-deg an beneran waktu nyetir. Mana ga sendirian, bonceng suami sama anak kecil. Mana motornya Vario 125 lagi! Mana saya pendek! Hhhhhhh. Khawatir banget oleng trus kaki ga nyampe :( Securam itu!



Berhenti sebentar. Diliatin orang-orang. Cuma bisa cengengesan wkwkwk. Kebetulan ada orang jualan jajan tradisional lewat. Biar ga malu-malu banget, saya cegat.....biar kaya mau beli gitu (gimana siih).


Bapaknya jual 2 macam olahan singkong, saya lupa namanya. 1 bentuk kotak2, satunya lagi singkong rebus yang dihancurkan kemudian dibentuk bola-bola. Ada asin dan manis. 1 bungkus isi 5 gede-gede, cuma 2.500. Saya beli 2 manis 2 asin. Katanya sih biasanya buat bekal mau ke ladang. Emang sih, nantinya pas saya icipin, 1 bola aja udah kenyang dan seret :" Tapi enak loh. Sayang di Bandung ga ada :(


Selain bulat-bulat singkong, kami juga beli tahu isi goreng cabe dan nasi jagung lauk ikan asin. ENAK BANGET T_T

Akhirnya gantian nyetir sama Kapten. Niat hati mau rekam-rekam tapi gabisa, kudu pegangan kuat. Karena kalo ga, nyusruk ke depan nimpa Kapten wkwkwk. Dahlah, ngeliat jalannya aja nguweriiii. Kiri rumah-rumah, kanan jurang (bawahnya rumah).


Saya peehatikan, desa ini sudah 'diwisatakan' mulai serius. Ada beberapa atap yang jadi spot foto, tiang lampu yang 'fancy'. Semoga sih berdampak baik untuk masyarakatnya dalam jangka waktu yang panjang. Terutama, tidak dengan merusak alam.


Bisa banget saya berlama-lama menyusuri desa Butuh ini. Vibes nya tenang, kalem, jauh dari hustle bustle. Terutama nyaman dengan udara sejuk dan pemandangannya yang mengesankan.



Tapiiii seperti biasa, kami dikejar waktu check out sehingga harus segera kembali ke penginapan.


HARGA TIKET MASUK


Per manusia: 8.000

Parkir motor: 3.000

Parkir mobil: 10.000

Sewa ojek keliling: mulai dari 10.000 (tergantung jarak)

Teras Nepal: 2.000

Mendaki gunung Sumbing: 15.000

Tarif fasilitas basecamp: 10.000


FASILITAS


Tempat parkir, spot ambil foto, walking track, warung-warung.


JARAK


Dari pusat kota Magelang: 48 menit

Dari stasiun Magelang: 47 menit

Dari guesthouse Nareswari: 47 menit

Dari Jogja: 2 jam

2 comments:

  1. Hahahahaha baca jalanannya yg curam jadi tertarik aku mbaaa 😂. Kayaknya seru... Eh tapi kalo gitu mobil ga bisa masuk yaa? Aku harus sewa motor berarti kalo kesana yaa?

    Nyesel banget pas trakhir mudik ga mampir kesana. Padahal om udah nyaranin Krn katanya tempat wisata baru 😁. Kirain biasa aja. Tapi baca tulisan mba, kok view-nya lebih cakep lagi. 👍🏿

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mobil bisa parkir sampe di depan desanya aja Kak, ada kok lahan parkirnya. Pun sebenernya kalo ada penjaga, naik motor juga harus turun. Jalan kaki lah pokoknya pas masuk per desa annya.

      Jalan curaaam pas di gang2 desanya, justru. Kalo aksesnya mah menanjak tapi yang landai aja ga sampe ekstrem 😃

      Bagooooeeeeesssss Kak buat healing ala-ala. Nikmatin suasana pedesaan dan petani-petani yang sibuk di ladang. Pokoknya bikin lupa kota deh hehe. Saya rekomendasikan 👍🏼

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya.

Bila berkenan sila meninggalkan komentar, supaya; 1) saya bisa tahu kamu, kita berkenalan, saya mampir ke blog kamu, kita menjadi teman! 2) beritahu saya apabila ada kritik dan saran.

Sekali lagi, terimakasih banyak :)