Cerita ke Orang

zahrah nida

Dapat curhatan dari teman, membuat saya berkaca dan throwback saat berada di disituasi yang serupa.

zahrah nida

Ada dua hal yang membuat saya enggan untuk menceritakan perasaan, terutama permasalahan, kepada orang lain. Pertama, saya sangat pemilih menentukan telinga mana yang dirasa capable. Kedua, ada perasaan tidak enak mengeluhkesahkan hidup saya sedangkan orang itu pastu juga punya beban hidup.

Dulu saat menjadi mahasiswa baru, seorang petinggi kampus menasehatkan kepada kami; berikanlah berita-berita baik kepada orangtuamu, supaya mereka tidak bersedih. Akhirnya beberapa lama ketika bertukar kabar dengan orangtua, saya tidak menceritakan bagian 'perjuangan' yang menyedihkan. Saya ceritakan yang enak-enak, saya baik-baik saja sepenuhnya.

Namun mungkin feeling seorang ibu. Kamu kenapa? Cerita sini sama umik. Lalu saya jawab, kata dosenku cerita yang baik-baik aja, supaya orangtua nggak sedih. Sedihmu kalau ada apa-apa gimana? Justru ceritakan aja semua enak nggak enaknya. Darisitu umik abi bisa kasih pandangan, nasehat untuk menguatkan kamu. 

Sebenarnya latar belakang keluarga kami memang terbuka membicarakan masalah apapun. Dan sejak saat itu, saya jadi tahu bahwa disitulah umik dan abi memosisikan diri mereka sebagai orangtua saya, menerima keluh kesah anak sehingga tahu permasalahannya dan bisa memberi wejangan. Secara tidak langsung umik dan abi meyakinkan saya bahwa, I'm not alone.

Tapi ada kalanya respon yang saya dapat tidak memuaskan, malah menjengkelkan. Kalau sudah begitu saya berjanji pada diri sendiri untuk ga akan curhat lagi. Eeeh ga sampe seminggu ya curhat lagi.

Tapi itu hanya berlaku ke umik sih. Beda cerita kalau ke teman.

Beberapa kali saya mengalami situasi; respon yang menjengkelkan. Bukan karena feedback nya tidak memihak saya, namun sikapnya saat berbicara membuat kurang nyaman. When I'm talking, you have to focus on me and I'll do it to you too.

Hahahaha. Yaa gitu. Saya orang yang akan memberikan atensi penuh ketika seseorang berbicara kepada saya. Dalam konteks berduaan atau kelompok kecil ya. Saya tidak akan memainkan hape, melihat matamu, dan akan memberikan reaksi bahwa ceritamu mengesankan.

Saya nggak pura-pura. Karena memang buat saya, cerita tiap orang itu menarik.

Nah, as I treat people like that, I'd be more comfortable if people treat me like that too. Gimana kalau ga sesuai ekspektasi? Ya ga bakal cerita lagi. 

Sounds demanding? Man, I wanna live my life comfortably. 

Omong-omong-omong.

Ketika sedang menghadapi masalah, biasanya saya coba untuk berdiskusi dengan diri sendiri dulu. Bagaimana bersikap? Bagaimana mengondisikan hati dan pikiran? Apa yang harus saya lakukan untuk tetap bahagia dan senang? Apa solusinya?

Berharap bisa jadi pribadi yang mindfull terhadap tindak-tanduk. Tapi nyatanya saya masih struggle hahaha. Kalau sudah pada tahap, ah yaudah dibawa senang aja, saya baru bisa cerita ke orang lain.

Buat saya pribadi, memiliki seseorang untuk mendengarkan keluh kesah adalah kebutuhan. Karena berkeluh kesah merupakan hak setiap orang yang hidup! Nggak papa kok, asal jangan berlebihan. Saya pikir, menceritakan keluh kesah bisa jadi salah satu cara melepaskan beban atau stres. Contoh lain; makan enak, jalan-jalan, belanja, ngelamun, tidur, bersihin rumah.

Terus gimana kalau ngerasa takut gangguin atau ngeriwehin orang? Ya gausah cerita kalo gitu. Udahlah lagi punya masalah, kepikiran hal lain lagi. Makin overthinking huhu.

Disaat seperti itu saya jadi diam. Akhirnya ngobrol aja sama diri sendiri. Kalau udah merasa sangat penuh, baru cerita ke orang lain. Kalau dulu ke umik abi, sekarang alhamdulillah saya diberi pasangan yang telinganya 'baik hati'. 

Lalu apakah mereka selalu available? Ya nggak. Mereka juga manusia yang punya mood, perasaan, dan urusan masing-masing. Gimananya saya curi waktu dan perhatian mereka sejenak. Dan ini hubungan timbal balik sih.

Lalu apakah mereka bisa kasih solusi? Ya nggak lah, haha. Beberapa kali saya cuma pengin didengarkan aja. Karena aslinya udah tahu gimana menyelesaikan masalah tersebut. Apalagi kalau jelas-jelas saya tahu mereka tidak kompeten mengenai masalah saya.

Nah kalau sudah seperti itu, daripada makin melas dan sakit hati, mending saya senang-senang sendiri. Awalnya keliatan banget kalau dibuat-buat, fake. Lama kelamaan enjoy juga.

Eh iya jadi gimana kalau takut ngeriwehin orang? Ya bisa jadi itu overthinking kita. Padahal mah orangnya biasa aja.

Ha? Iya gimana? Gitu pokoknya.

6 comments:

  1. Replies
    1. Hahaha, baiklah. Akan saya tumpah-tumpahkan di sini. Silakan membaca :D

      Delete
  2. Problemnya agak mirip dengan tulisan terbaru saya di blog. Haha.

    Tapi memang ketika sekali dikecewakan orang saat lagi bercerita (entah itu dia mainan HP, dia kayak kurang nyimak karena minta ngulang dengan berkata, Hah, gimana tadi? Coba ulang?), biasanya sih ke depannya bisa dipastikan saya akan menahan diri atau bahkan enggak memercayakan dia lagi sebagai tempat berbagi. Merasa kurang dihargai gitulah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaaaa :)
      Kalau dengan teman yang saling mengerti, pasti bilang dulu, "maaf ya aku sambil chat nih, ada yang penting." Disitu malah saya akan kasih dia fokus dulu untuk urusannya.

      Segimana-mananya orang dengerin kita meski sambil main hape, yang aku butuhkan tuh atensinya :" wkwkkww.

      Delete
  3. Punya orang yang bisa jadi pendengar itu juga kebutuhan buat aku, Mbak ๐Ÿ˜

    Kadang kalo sama orang yang udah deket, aku bilang, aku cuma pengen cerita atau numpahin emosi, nggak usah ditanggepin wkwkwkwk

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya.

Bila berkenan sila meninggalkan komentar, supaya; 1) saya bisa tahu kamu, kita berkenalan, saya mampir ke blog kamu, kita menjadi teman! 2) beritahu saya apabila ada kritik dan saran.

Sekali lagi, terimakasih banyak :)

Instagram