Ramadan Sisa Berapa?

bintang (2)

Tiket kereta sudah di tangan, bahkan untuk pulang pergi. Namun qadarullah, pandemi covid-19 merebak. Mau tak mau tak bisa mudik, meski rindu begitu dalam terusik.

Bahkan sampai beberapa hari kuabaikan pesan dan panggilan video dari mereka. Khawatir, nantinya kubalas salam dengan isak tangis. Hehe, jadi teringat aku yang sedari dulu berkoar-koar ingin tinggal jauh karena ingin merasakan mudik.

Hingga hari ke 8 baru aku berani menjawab panggilan video. Riuh berpindah-pindah wajah yang tertampang di layar. Dari umik ke adik-adik, bercerita ini itu panjang lebar. Kemudian abi, menyapaku.

"Assalamualaikum Zahrah, apa kabar? Gimana, apa yang tersisa dari Ramadannya?"

Tertegun, tergagap. Seketika terpacu adrenalin menemukan jawaban yang 'bagus'.

"Yaa diistiqamahkan aja apa yang kemarin dilakuin waktu Ramadan bi."

Selesai panggilan, kembali kurenungkan pertanyaan abi juga jawabanku.

Memang biasanya begitu, kan? Begitu erat mengencangkan ibadah saat Ramadan, namun setelah takbir digemakan, "apa yang tersisa dari Ramadan-ku?"

Saya tersadar, beberapa hari kebelakang ibadah jadi lengah. Ramadan berlalu, berakhir juga susah payah mengejar ibadah ini itu.

Kenapa?

Apa karena iming-iming imbalan atau pahala tidak se wah saat Ramadan? Atau ya memang merasa penat karena sebulan penuh wajib memenuhi ritual; puasa, tadarus, dan tarawih? Ingin bersantai dari linglung nya bangun pagi buta untuk sahur dan mengejar 10 malam terakhir lailatul qadr?

Katanya setelah sebulan penuh berpuasa, kita menyambut Idulfitri, 'hari kemenangan'.

Nah, sudah menang nih. Apa hasil menang itu?

Akhirnya buat saya, ya berusaha istiqamah. Mencoba menyamakan pace ibadah seperti saat sedang bulan Ramadan. Urusan pahala akan sebesar atau se-tidak-besar pada bulan Ramadan, hak prerogatif Allah. Wallahua'lam bisshawwab. 

13 comments:

  1. Orang-orang yang pas bulan Ramadan ibadahnya kencang banget tapi begitu Ramadan berakhir ibadahnya jadi jarang, saya kategorikan orang-orang yang beribadah bukan untuk mencari rida melainkan mencari angka tertinggi pahala saja. Padahal jelas-jelas itu bukan dilihat dari seberapa sering melainkan seberapa iklas. Selamat lebaran!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Urusan mengategorikan orang-orang di dunia ini adalah hak setiap orang, saya sangat menghargai.

      Yang saya yakini, mau bagaimanapun kembalinya kepada Allah sebagai Tuhan Semesta Alam, satu-satunya yang punya hak prerogatif untuk memberikan balasan atas amalan (pahala atau dosa). Hehehe.

      Yap! Saya setuju, ikhlas dan niat dalam beribadah adalah dua hal yang buat saya pribadi masih perlu belajar banget.

      Selamat lebaran, selamat berbahagia!

      Delete
  2. Jika idulfitri adalah kemenangan, berarti ramadannya bisa dianggap pertandingan. yang namanya pertandingan, tentu pesertanya sebanding. yang artinya juga, pihak pemenangnya belum tentu sama tiap tahunnya.

    jika peserta pertandingan yg lolos kualifikasi adalah malas, iri, berkata baik, nyuruh orang berbuat baik, mengaku diri lebih baik, bersyukur, tidak patah harap, dan sadar ingkar keluarga, kayaknya yg menang itu adalah sadar ingkar keluarga. maksudnya, selama ramadan kemarin, jadi makin ngrasa dosa karna gapernah bisa membuat bahagia keluarga, bahkan gabisa hadir untuk menemani masa lemah mereka sekarang.

    perihal keimanan, entahlah. tiap kali mencoba seberapa berimannnya diri, nemunya malah selalu merasa kurang beriman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah saya suka sekali dengan paragraf pertama komentar ini :)

      Tentu saja. Apalagi (untuk saya pribadi) kalau sedang dihadapkan dengan masalah, kemudian merengut berlarut-larut. Waktu ingin entas, baru sadar kemana saja kemarin.....kok membiarkan berlarut-larut, katanya beriman?

      Delete
  3. Jadi inget kisah generasi terbaik, generasi sahabat Rasulullah. 6 bulan selepas Ramadan, dengan harap dan cemas, mereka berdoa untuk diampuni dosanya dan diterima amalan selama Ramadannya. 6 bulan juga jadi masa evaluasi diri, sebelum akhirnya bersiap menuju 6 bulan menjelang Ramadan.

    Ah, apalah saya yang juga tetep ndak bisa pertahankan Ramadan. Setidaknya, giatnya kita di Ramadan bisa jadi bekas yang baik, bekas yang memotivasi; kalau ya... kita pernah berada dalam titik puncak beribadah.. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau para sahabat six months before, biasanya saya teringatkan kalau teman-teman organisasi udah mulai bikin status hitung mundur hehehehe.

      Benar, wallahua'lam.

      Delete
  4. sebuah mindblowing.. Ya juga,, orang biasanya sangat rajin ibadah selama ramadhan. Tapi setelahnya? seperti kembali ke hari2 sebelum ramadhan, begitu tiap tahun..

    -traveler paruh waktu

    ReplyDelete
  5. Selamat idulfitri, Zahrah. Masih syawal ini. Belum telat kan ya. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Mayang! Lama tak bersuo hehe, kemana aja?

      Untukmu juga kak, Eid Mubarak! :)

      Delete
  6. Setelah baca tulisan ini, saya jadi merenung kok dari taun ketaun gak ada perubahan tiap setelah ramadan... Mesti ibadahnya jadi kendor gak segencar pas bulan ramadan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ada perubahan ke arah yang lebih baik ya kak, aamiin :D

      Delete
  7. Gw malu banget. Ramdhan kemaren molor doang kerjanya. Emang karena korona juga sih, bingung mau ngapain di rumah. Malem gak bisa ke masjid, ditutup masjidnya.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya.

Bila berkenan sila meninggalkan komentar, supaya; 1) saya bisa tahu kamu, kita berkenalan, saya mampir ke blog kamu, kita menjadi teman! 2) beritahu saya apabila ada kritik dan saran.

Sekali lagi, terimakasih banyak :)

Instagram