Memasak, Dari Antipati Jadi Menikmati

bintang

Pada zaman dahulu kala, saya anti dengan berbagai hal yang oleh masyarakat dilabeli 'kewanitaan'. Dari mulai gaya berbicara, mainan, aktivitas sehari-hari, gaya berpakaian, cara berpikir, dan lain sebagainya. Gara-garanya umik benar-benar ketat soal batasan waktu ketika saya sedang berada di masa candu bermain di luar bersama teman. Yang menjadi persoalan adalah, alasannya. Jawabannya, "karena kamu perempuan." 

Ih sebel banget!

Sampai-sampai saya nulis di cermin kamar(pake hangeul biar umik ga bisa bacanya); 
KENAPA AKU LAHIR JADI PEREMPUAN?!

Eh terus pernah suatu hari murid-murid SMA umik silaturahim ke rumah. Nah ada salah satu mbak-mbak (saat itu saya SMP) numpang salat di kamar saya dan bisa baca hangeul dong. Beliau ketawa kemudian bilang ke umik, umik juga ikut ketawa hmmm ketahuan deh.

Pokoknya saya ga terima banget-banget dan selalu mempertanyakan kenapa sih aku harus jadi perempuan?!!?! Banyak banget gak bolehnya, enakan jadi laki-laki, bebas main kemana-mana ga pake waktu-waktuanSaat itu saya belum terlalu mengerti esensi-substansi kalimat "karena kamu perempuan", jadinya saya menutup mata mengenai perbedaan serta keistimewaan antara lelaki dan perempuan. Mentah-mentah menyimpulkan; jadi perempuan itu tidak bebas, ga enak!

Termasuk kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga seperti memasak dan menjahit. Saya bukannya anti ga mau masak dan belajar jahit, tapi memandang sebelah memasak+menjahit sebelah mata karena itu pekerjaan perempuan!

Kemudian tahun demi tahun berlalu, saya masuk kuliah dan tinggal di asrama setahun. Keluar asrama saya tinggal di kontrakan bersama kakak-kakak tingkat dan adik-adik tingkat dari berbagai jurusan, tiga tahun sampai lulus. Enam hari dalam seminggu dibagi rata, setiap penghuni mendapat jadwal memasak, bertanggung jawab atas kenyangnya perut seluruh penghuni dua kali sehari.

eskrim brownies
Kiri: es krim yang terbuat dari susu, maizena, kental manis, dan sp. Sangat lembut dan menyegarkan, buatnya gampang sekali! Selanjutnya saya mau coba buat es krim buah naga.
Kanan: brownies bantet tapi enaaak sekali karena pakai dark choco powder sehingga ada pait-paitnya. Pertama kali coba dan langsung suka! 
Masa itulah saya dapat kesempatan menyelami dapur lebih dalam dan belanja sendiri ke pasar. Bagaikan diberi kuasa penuh untuk memilih dan meramu berbagai bahan untuk disulap menjadi sesuatu yang bisa dimakan. Saya mulai eksplorasi bahan mentah dan mpon-mpon (bumbu-bumbu dapur seperti serai, daun jeruk, daun salam, lengkuas, kunyit, dan lain sebagainya), menggabungkan teknik dan pengetahuan memasak dari umik dan mbak-mbak di kontrakan. Pertama kalinya ngulek bumbu di cobek yang bulat sampai lembut, terkesima! Karena di rumah pakainya yang ditumbuk, bukan diulek.

Hingga lambat laun seakan saya bisa mengenali diri dan potensi diri lebih dalam, juga peraturan saat masak. Pertama, satu kontrakan tahu bahwa saya tidak suka diganggu ditemani saat masak, kecuali saya sendiri yang minta tolong saya tidak butuh bantuan Anda. Alibi sih, karena sering malas cuci bawang dan dibilang "iiihh jijiiiik". Lah kan ntar juga digoreng/direbus, kumannya pasti mati! (sesat hahaha, etapi sekarang saya ga gitu).

Kedua, masakan saya tidak ada namanya. Sebab saya buat masakan hampir selalu tidak melihat resep, mengikuti insting saja. Cenderung lumayan sering berhasil dipuji enak, tapi selalu dengan tambahan raut wajah menyerngit, "ini kamu masak apa Nid? Apa namanya ini? Mesti masaknya aneh-aneh." Hahaha. Biasanya komentar begitu dilontarkan oleh kubu 'patuh pada resep turun temurun' alias mereka yang kalau masak menunya Indonesia banget.

"Ini apa kak Nida? Wah kreatif banget sih." Kalau yang ini komentar adik-adik tingkat yang mungkin segan kepada saya, hahaha.

Memang benar aneh, saya akui dan saya gak ada masalah dibilang begitu. Buat saya memasak itu proses kreatif menghasilkan penganan yang enak rasanya dan menghadirkan pengalaman baru. Bagai fashion dan fun yang terus berubah dan berinovasi, begitupun food. Pernah saya kesal karena dibilang aneh, tapi akhirnya menyadari bahwa kita gak bisa memaksakan selera individu. 

pie susu nasi apukat
Kiri: pie susu pakai kental manis cocopandan, beda dengan resep aslinya yang pakai kental manis putih. Pokonya sama-sama manis kan? 
Kanan: nasi goreng campur wortel, sosis, avokad, keju, dan nori.
Misalnya nasi-goreng-campur-campur dengan avokad dan nori. Saya membagikan cara membuat makanan ini di status WA. Kemudian si temanㅡyang memang dari dulu waktu di kontrakan selalu kontra dengan cara dan hasil masakan sayaㅡberkomentar, "mestilah Nida aneh-aneh." Saya gak kesel, cuma jadi mikir aja. Apanya yang aneh sih? Lah sushi juga ada yang dicampur avokad, mangga malah. Jadinya saya geregetan dan kasihan karena dia mainnya kurang jauh.

Apa yang dianggap aneh, ternyata biasa aja di daerah lain atau luar negeri. Dengan perbedaan budaya dan sumber daya alam, tentu saja akan tercipta begitu banyak teknik dan hasil masakan yang asing atau bahkan aneh untuk orang Indonesia. Saya jawablah, "yaaa palate kita bedaa."

Contoh lain, saya masak bihun dengan buah bit sehingga warnanya jadi kemerahan. Dari segi rasa ya sama aja seperti bihun goreng biasa, namun secara penampilan tentu saja sangat berbeda. And it went like, heboh sekontrakan. Padahal kan buah bit sudah sangat lumrah digunakan sebagai pewarna makanan alami. Nggak tau aja di rumah malah pakai buah naga wkwkkw.

Kalau ditelisik lagi, semuanya berasal dari rumah sih. Sebenarnya umik tidak suka memasak, tapi bagaimana pun tetap dilakukan supaya kami tidak kelaparan. Meski bilangnya bahkan benci masak, hasilnya enak-enak dan umik selalu punya menu masakan baru. Gak jarang kalau ada saudara yang mampir dan lihat atau nyicipin masakan umik terlontar kalimat, "Ya Allah ini bikin apa? Ada-ada aja." Padahal buat kami ya biasa aja, normal. 

Tapi emang saya akui terkadang umik kelewat batas. Beli salad Pizza Hut, lalu umik menambahkan toge/kecambah ketika disajikan. Abi yang akan duduk ikut bergabung, langsung berdiri pergi gak jadi makan, hahaha.  

Bento
Kiri: nasi merah campur putih dengan tamagoyaki. 
Kanan: roti saus sambal isi nori, keju, dan sosis.
Dari begitu banyak yang disampaikan kepada saya sebagai nasehat pernikahan tahun lalu, paling banyak adalah; Nid ntar masaknya jangan aneh-aneh, kasihan suamimu. Jujur saja ketika itu saya kepikiran, "iyaya, bener juga....." Eh alhamdulillah ternyata Rumput 'terbuka' terhadap hal-hal baru soal 'meramu' bahan makanan. Gak pernah masalah dengan kekreatifan saya, malah dia sangat mendukung eksperimen saya di dapur. Baik secara moril maupun materiil (hehe).

Tidak berarti selalu cocok, dia pun punya preferensi yang sebetulnya berkebalikan dengan saya. Saya suka dengan potongan lauk kecil-kecil, dia tidak suka makanan yang bentuknya kecil-kecil seperti kerang, teri, kupang. Saya suka makanan berkuah sampai banjir, dia suka nyemek. Saya suka asem dan asin, dia sukanya manis.

Bersyukur alhamdulillah, saya tidak alergi makanan tertentu dan bukan picky eaterㅡmeski ada beberapa makanan yang tidak disuka. Seperti susu sapi dan daging-dagingan merahㅡkecuali yang sudah diolah menjadi bakso, abon, keju, yoghurt, dan lain sebagainya. Saya punya teman yang alergi udang, cokelat, ada pula yang tidak suka rasa mayones dan keju. Heyy itu semua makanan enakk T-T

Begitulah.....

Saya yang awalnya antipati dengan kegiatan memasak, sekarang malah keranjingan dan sangat menikmati. Apalagi kini sudah berstatus istri dan hanya tinggal berdua dengan Rumput. Saya menjadi pemegang otoritas tertinggi wilayah dapur; tata letak, ketersediaan bahan, menu, dan kebersihan (dibantu Rumput). Alhamdulillah waktu nikah ada yang kasih hadiah mixer, dari situ muncullah ide-ide bikin ini-itu. Ditambah dengan pekerjaan reguler yang hanya tiga hari dalam seminggu, saya punya banyak waktu luang.

Berdamai dengan kenyataan bahwa saya dilahirkan sebagai perempuan, sekaligus menghilangkan pemikiran gak bener saya tentang 'genderisasi' aktivitas seperti memasak dan menjahit. Nyatanya banyak di luar sana koki ataupun penjahit profesional yang berjenis kelamin laki-laki. Lumrah, bukan masalah. Mengenai konteksnya sebagai pekerjaan rumah tangga, saya lebih mampu daripada Rumput. Jadi yaa bukan karena karena istri maka memasak.


Nasi goreng wortel
Kiri: karena nyisa wortel banyak banget dan beras tinggal dikit, akhirnya dijadikan nasi goreng.  
Kanan: masih nyisa juga, wortelnya dibikin omelet. 
Saya semakin berani eksplor dan mencoba hal-hal baru seperti membuat roti, panada, bapao, souffle cake, dan baanyak lagi. Trial and error pastinya. Kalau berhasil, senang sekali rasanya bisa buat orang tersayang (baca: Rumput) bahagia karena kenyang. Kalau gagal? Ya diketawain bareng aja, tetap dimakan sambil menikmati ketidakberhasilan menyajikan rasa enak atau bentuknya tidak pantas hehehe. Kecuali gosong banget ya dibuang.
Dua hari yang lalu, untuk ketiga kalinya saya gosongin panci teflon. Lagi manasin cuko pempek, kelupaan karena hapean. Gak main-main kami batuk-batuk, sesiangan gak bisa masuk rumah karena penuh asap. Artinya, akan jadi ketiga kalinya Rumput gosok itu panci. I asked him, "marah ga? Kesel ga?" He answered while stroking my head, "ga gapapa." 
Beberapa kali gagal, Rumput tetap mendukung saya eksperimen dengan menyediakan berbagai jenis tepung, keju, minyak, saus, kecap, bahan-bahan kue, sayuran, ikan, apa pun yang saya penasaran ingin coba buat.

Baca juga, 8 Produk Kecap dan Saus untuk Membuat Makanan Semakin Lezat

Buat saya, memasak bagaikan ilmuwan yang sedang membuat ramuan magis. Dari bahan-bahan yang bahkan ga bisa dimakan langsung, diracik menjadi kreasi berbeda dari segi rasa dan tampilan. Buat saya, makanan lezat adalah salah satu bentuk kenikmatan yang membuat hidup bahagia, sekaligus hadiah atas kerja keras sehari-hari. Entah dengan membeli makanan enak di luar, atau bikin sendiri di rumah. Tasty food for happy life, good life for great food. 

dalgona ice coffee
Bikin dalgona ice coffee, it's my new thang! So good! 

42 comments:

  1. Duh, jadi pengen cepet-cepet punya rumah sendiri biar bisa bereksperimen kayak gini juga. Bacanya seru banget, terutama bagian gagal dan ketawa-ketawanya hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang kenapa kalau di tempat yang sekarang? Kos kah? Saya dulu di kontrakan eksperimen kalau kedapatan jadwal masak aja. Soalnya mau beli bahan-bahan hmmmm, mending ditabung hehe.

      Kalau di rumah (sama orangtua) mah enak, bahan udah ada yang nyokong, trus nyiapin peralatan sama bersihin (nyuci, dll) dibantu adek-adek hehe. Tinggal ngomandoin aja.

      Enak ga enak, gimana pun bentuknya, kalau dibikinin rasanya seneng :D hahahaa.

      Delete
    2. Di rumah orangtua, dan gak bebas bereksperimen karena pasti ujung-ujungnya mau diambil alih sama ibu. Wkwkwk

      Delete
    3. Kalau saya, umik sebetulnya ga suka di dapur. Jadi dapur mau diapain aja bebas, malah seneng kalau ada yang masakin sekalian untuk makan sehari-hari wkwkkw.

      Mungkin bisa dicoba bilang, "bu, tolong beri saya kesempatan mencoba sendiri. Ibu duduk manis, ntar tinggal bilang enak atau ga enak aja y," sambil senyum :)))

      Delete
  2. pertama kali saya coba ber eksperiment malah gagal serasa kapok tapi lihat story kawan berhasil jadi kepacu lagi cckcwk semoga segera jadi kategori maniak masak biar bisa naikin berat badan huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jugaaa kalau ga berhasil rasanya sebel banget :(
      Tapi ga kapok sih, jadi penasaran apaa yang bikin gagal. Hmm, keseringan sih gara-gara saya 'arogan' sok ngira-ngira takaran bahan padahal diresep sudah ada, hehehe.

      Delete
  3. Aku penasaran sama nasgor avokadnya nid, wkwkw..
    wah kalau masalah masak memasak aku harus mundur untuk saat ini, nggak tau nanti kalau udah berumah tangga.. pernah dulu iseng iseng bikin nasgor, setelah jadi akunya sendiri nggak doyan untuk memakanya, apalagi orang lain. wkwkw.. dibuang deh #Mubadzir
    .
    harusnya baca artikelnya nanti aja yaa pas udah buka puasa. Wkwkw..
    Tapi ndak papalah aku suka postingannya karena ceritanya begitu mengalir :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernah makan sushi avocado atau avocado roll? Ya begitulah mirip-mirip rasanya, coba saja hehe :D

      Dulu juga seriiing kayak gitu. Suka maruk nambahin ini itu, hasilnya; yikes! Ga enak banget, aneh :(
      Tapi ntar ntaran lagi jadi inget banget deh, "oh kalau masak ini gausah ditambah A B C, karena ga cocok," gituuu.

      Huhu iya bener :( biasanya biasa aja sama postingan makanan di IG. Sekarang mah kalau siang-siang, duh, skip deh. Ga tersalurkan soalnya kalau keikut ngiler :(

      Delete
  4. jago banget sih masaknyaaa, Zahraaah :D

    tamagoyaki-nya dibikin di mana? ada pan khusus yang kotak itu ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Engga jago, cuma kadang bisa berhasil aja wkwkkw.

      Di teflon bulet biasaa, cuma emang nuangin adonan telurnya beberapa kali gitu supaya dapat layernya ehe.

      Delete
  5. Wishh keren sekalii siiihh bisa dan mau belajar masak ini itu ❤

    Saya dulu gak bisa masak, kalau dirumah cuman bisa bantu2 cuci piring sama bersih2. Kalau sekarang masih belum ahli, tapi sudah lumayan bisa goreng2 sama bikin sayur bening. Tapi masih belum bisa nentuin cabe kalau digoreng matang nya gimana, keseringan saya tungguin aja dikira2 sendiri ya hasilnya kadang masih belum matang, kadang matang, kalau lagi gak beruntung cabenya gosong.

    Bulan lalu saya juga gosongin panci gara2 bikin omelette tapi pas manasin minyaknya ditinggal, dapurnya penuh asap, saya dagdigdug cemas bukan main,saya parno takut gasnya meledug.

    Soal teman mbak zahra yang suka pilih2 makanan diatas mungkin saya salah satunya, saya alergi udang, gasuka mayonnaise sama keju. Hadeeuh.

    Hari ketiga puasa saya juga coba2 bikin jelly, karena kakak saya masih kerja dikantor jadi anaknya dititip ke saya, karena si bocil minta bikinin jelly ya saya bikinin ehh ternyata gak enak haha, komenan mereka pedes banget "tante kok rasanya gini, kalau bunda bikinnya gak gini". Minggu depannya saya bikinin lagi, karena udah coba bebrapa kali pas malam buat ngemil, rasanya udah lumayan, dengan pede saya hidangin didepan mereka, tapi emang dasar anak kecil ya ingatan kuat banget mereka sebelum makan nanya dulu "tante bikin jelly yang gak enak itu lagi ya?". Jleb banget rasanya. Sampai sekarang gak mau bikin2 lagi, biar aja bunda mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Motivasinya karena; suka makan, biar hemat, dan 'tahu' pasti apa yang dimakan. Zaman sekarang loh kak, agak ngeri bayanginnya hehe.

      Wahahaha xD eh saya juga gitu. Masaknya pakai insting aja. Kalau hasil akhirnya ga enak, yaaa yaudah gimana? Kalau enak alhamdulillah :D

      Ah sayang banget :( padahal tiga itu saya suka sekali! Apalagi kalau digabungin (jadi mentai misalnya), beuuuh! But it's okay, selera makanan bukan matematika yang benar atau salah hehehe.

      Kurang nyaman sih kalau hasil masakan dibanding-bandingin, karena emang kita bikin sesuai dengan selera kita yah. Kalau ga cocok sama orang lain, mau gimana? Kecuali emang mau dijual trus ngikutin selera pasar.

      Delete
  6. terakhir saya nyobain makan pizza pake nasi, dan skrg nemu referensi baru dari umiknya, kalo bsia juga dipakein kecambah. sepertinya pizza tersebut akan terasa lebih segar. patut saya coba.

    di rumah, kalo lagi pulang kampung, emak saya selalu nyuruh saya yang masak lauk atau sayur. tentu dengan aba-aba beliau resepnya. padahal ada adik perempuan. tentang generalisasi atau apa pun prasangka kita, kayaknya org tua mau anaknya bisa mandiri perihal kegiatan pokok sehari-hari. dalam kasus saya, mereka kayaknya juga mau makan masakan anaknya. beruntung kalo enak. itu saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pizza dikasi nasi terdengar enak, tapi kudu nambah saus kayanya. Yang ditambah kecambah itu saladnya. Kecambah ga pengaruh rasa, cuma tekstur aja jadi crunchy.

      Iya benar, saya setuju. Karena toh, memasak, adalah salah satu proses pemenuhan kebutuhan primer hidup; makan (kalau gak beli). Umik saya pun ke adek-adek yg laki-laki juga mendorong dan ngebebasin mereka menjadi familiar di dapur. Bukan masak yang repot-repot, sekadar rebus mie, ceplok/dadar telur, bikin nasi goreng,

      Delete
  7. Aneh juga sih buat saya kalau masakan pakai avokad. Selama ini cuma bisa menikmatinya dalam bentuk es buah atau jus.

    Sejauh ini belum pernah masak yang aneh-aneh, karena kemampuan masak juga baru sebatas goreng-menggoreng atau menumis gitu yang bumbu raciknya terjual di warung atau dibikinin sama Ibu. Belum mampu buat bumbu sendiri. Kayaknya nanti pas nikah mau nekat eksperimen, ah. Belajar bareng sama istri gitu sepertinya seru. XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, nah, tuh, memang ga semua kreasi makanan untuk semua orang. Saling menghargai palate masing-masing aja, iya gak? Wkwkwk.

      Kemudian nanti semakin dalam eksperimen......mau beli makanan jadinya mikir, "ah coba buat sendiri!" Apalagi ditambah rumor-rumor yang beredar bahwa jajanan di luar tuh ada bahan A B C yg berbahaya, ga hiegenis, mahal, dll.

      Yeap! Karena hasil makanan yang enak itu bukan hanya dari istri, tapi suami juga....kenapa engga? :D

      Delete
  8. kalau saya malah kebalikan mbak, gabegitu bisa urusan laki-laki, seperti manjat genting, manjat plafon, maku dinding, buang tikus mati, dll..
    ini lagi nyiapin mental buat siap-siap nikah buldep wkwk


    kalau aku bilang ke calon gpp sih tar masak aneh aneh penting enggak merusak lambung karena aku gabisa makan pedas huhu

    jadi selama masih bisa dimakan ya diasyikin aja sih mbak
    apalagi corona gini ya kayak skill masak keluar semua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pekerjaan-pekerjaan tersebut identik dengan laki-laki memang ya mas. Begitupun beberapa pekerjaan rumah tangga yang identik dengan perempuan. Kalau saya pribadi sih gini, ya siapa yang lebih mumpuni, ecara waktu+kemauan+kemampuan, silakan kerjakan.

      Semakin kesini, semakin sering juga Rumput masak (lagi mau+seneng belajar masak). Saya hadle pekerjaan yang lain, jadi saling bantu aja.

      Waah, bismillah, barakallahu lakuma ya mas :) semoga berkah pernikahannya ^^

      Mungkin bkn aneh-aneh, tapi 'eksperimen' (beda istilah, biar ga keliatan ngawur wkwkw xD).

      Betul! Ya pastinya tujuannya kan utk menciptakan makanan yg enak. Kalopun jadinya ga enak, namanya jg belajar :D

      Delete
  9. Aku pernah mikir begini waktu SD. Tapi kalau ditanya, "andai bisa terlahir kembali, mau pilih jadi laki-laki atau perempuan?" tetep aja jawabannya perempuan. Wkwkwkwk..

    Emang sih, ada banyak keterbatasan jadi perempuan. Tapiiii di sisi lain ada hal-hal luar biasa yang cuma dimiliki sama perempuan.

    Btw, itu makanan-makanannya kok menggoda banget siiih... Aku kalau masak yang begitu-begitu, mending yang langsung hap aja deh. Wkwkwk..

    Truuus aku jadi keinget dalgonaku yang malah jadi dalgomber. Gagal total sodarah sodaraaah.. Kzl.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, iya kak. Itulah.....karena ada beberapa hal yang terjadi pada saat saya beranjak remaja, jadi ada pikiran seperti itu.

      Tentunya pun ga cuma kepada perempuan, laki-laki juga.
      Baru besar begini saya sadar dan bisa menarik kesimpulan bahwa laki-laki dan perempaun dasarnya sama saja. Perbedaan yang ada (ntah berupa kelebihan atau kekurangan), adalah kenikmatan juga ujian untuk masing-masing.

      Bagaimana bijaksananya saja menghadapi itu semua wkwkkw.

      Saya puuuun, kalo masak ya sambil icip-icip. Tpi ntar kalo udah selesai masak, trus hasilnya dikit krn diicipun terus jadi capek :( jd tahan diri hehehe.

      Dalgona asalnya gampang, cuma butuh sabar aja /wihiww/xD.

      Delete
  10. Lho, kok sama banget itu. Nyokap juga masukin toge ke dalam kategori "salad". hahaha. Seru banget sih ya bisa eksperimen2 gituu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya sendiri yang bikin, toge mah lebih suka direbus dulu. Trus dipadankan dengan bumbu pecel. Atau ya jadi sayur toge sendiri gitu.

      Tapi pun, kalau ada yang bikin salad dikasih toge sih saya mau-mau aja :D

      Delete
  11. Yaampun jadi pengen coba bereksperimen buat masak. Tapi selalu aja timbul rasa malas karena diri sendiri gak suka masak. Tapi kalau masak yang sederhana sih suka ehehe, karena untuk kebutuhan perut wkwk👀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, saya suka masak......tapi ya pernah juga kena malas. Kalo ga karena lapar ga bakal deh masak.

      Delete
  12. Aduhhh, ini sih istri gw banget. Suka masak yang aneh-aneh terus gw di suruh yang nyicipin duluan. Gw sebagai suami yang baik ya tetap memuji hasil masakannya. Pokoknya telan aja. Biar istri seneng.

    Wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahahaha. Dibalik aneh-anehnya itu, tersimpah sebuah tujuan mulia; bikin perut suami seneng. Yaaa kalo bentuk dan rasanya beneran aneh (bukan fail ya), itu diluar kuasa kami :) /ngeles wkwkw.

      Semoga sistem pencernaan kita selalu diberi kesehatan, aamiin :D

      Delete
  13. Awalnya ga bisa. Lama2 jadi bisa ya mba. Kadang emng kepepet dlu bs bisa. Ngebayangin dl nikah gimana nnti. Pas dijalanin enak aja heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener kak hehe :D tapi yang namanya masak mah sebenernya harus jadi kemampuan dasar setaip orang sih, untuk bertahan hidup diri sendiri. Mau laki-laki, perempuan, udah nikah, ataupun belum nikah.

      Delete
  14. Seru banget sih ini. Kalau aku pribadi belum berani untuk eksperimen begini. Takut di usilin anak-anak hahaah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, kalo bkin-bikin bahannya dibagi dua aja kak. Satunya dibikin bagus, satunya lagi dikasih ke anak-anak untuk eksperimen mereka supaya ga ganggu kita. Sekalian belajar :D

      Delete
  15. kreatif banget bisa membuat makanan ataupun masakan yang tidak umum tapi hasilnya jadi enak seperti ini. Tak masalah sih menurut saya toh itu juga ilmu. Sekarang aja ada Indomie campur buah nanas loh...kan tambah aneh yg dicampurkan malah jadi enak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, indomie campur nanas saya belum bisa bayangin rasanya xD
      Apakah jadi segar kayak asam manis? Atau pizza yang hawaii?

      Delete
  16. Waaah, seru ceritanya. Saya juga sealiran nih, uprek-uprek masakan dari bahan-bahan yang nggak sesuai pakem masakan tradisional hahaha tapi buat dimakan sendiri. Kalau buat suami dan anak-anak ya yang normal aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya awalnya lihat umik masak-masak 'gak karuan'/gak umum. Awalnya sangsiii banget, eh pas dicobain ga buruk, malah ada beberapa yang enak banget! Dari situlah saya keikut hehe. Mungkin anaknya bisa dilibatkan juga kak :D

      Delete
  17. Kalau buat sendiri saya sering gitu. Apalagi saat kerja di luar negeri, bahan makanan banyak yg ga hafal main campur saja, hahaha.... sekarang sih di kampung masak apa adanya saja. Lidah suami beda soalnya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener sih, kadang mau gak mau kita kudu nurutin sesuai 'norma' yang berlaku di sekitar. Tapi saya mah kalo udah rindu masakan 'sendiri', yaudah cus bikin aja. Misal orang lain gamau, ya gapapa, saya kuat ngabisin xD

      Delete
  18. saya juga dari sebelum nikah suka eksperimen di dapur, kalau pertama buat biasanya patuh ama resep, yang keduanya sesuka hati, jelas bisa ditebak rasanya gimana, hahahahh.. tapi saya tidak bosan tuk mencoba hal baru lagi.
    kalau sekarang anak-anak yang jadi pelanggan setia, Paksuamik malah suka terlalu jujur komennya, jadi saya malas nanya atau malas simpanin dia makanan hasil eksperimen, hahahahh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toos dulu kak Diah! Resep itu patokan kalo bener-bener baru. Abis itu pedenya muncul, 'berinovasi' sendiri hehehe.

      Mungkin kalau suami kan sudah lebih tua drpd anak-anak, jd palet lidahnya udh pakem. Kalau anak-anak kan barusan hidup (loh wkwk), jadi masih bisa dijejelin rasa-rasa baru :D

      Delete
  19. Me too. Aku jadi suka banget masak akhir-akhir ini, ternyata asik juga. Gak cuma masak makanan sehari-hari, aku juga bikin kue dan aneka dessert. Nambah pengalaman banget sih dan lumayan buat pamer ke camer kalo jago masak hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyik banget! Apalagi kalau berhasil dan rasanya enak. Langsung kayak pede banget mau dijual hahaha.

      Delete
  20. duh jadi ngiler nih hehe.. saya bukan termasuk yang suka masak banget sih, tp sangat bersyukur di era masa kini, ibu-ibu jd mudah dan pinter masak dalam sekejap karena banyak aplikasi untuk nyontek resp hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar kak! Sekarang apapun bisa didapatkan dengan mudah lewat internet. Ga cuma informasi aja, tapi barang juga hehe.

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya.

Bila berkenan sila meninggalkan komentar, supaya; 1) saya bisa tahu kamu, kita berkenalan, saya mampir ke blog kamu, kita menjadi teman! 2) beritahu saya apabila ada kritik dan saran.

Sekali lagi, terimakasih banyak :)

Instagram