Permulaan, Siapkah Menikah?

Beginning

Sekiranya akhir September atau awal Oktober tahun 2018 lalu, kalau tidak salah ingat, beberapa minggu setelah wisuda. Saya mendapatkan pesan dari seorang teman baik. Bertanya kabar, lalu mengajukan pertanyaan yang juga berulang kali saya tanyakan pada diri sendiriγ…‘"Nida sudah siap menikah?"

Apakah saya sudah siap menikah?

   WHAT IS IN THE SOCIETY*   

Berdasarkan pengamatan pribadi, dalam budaya masyarakat kita terdapat pola alur standar fase hidup yang sering dijadikan cermin banyak orangγ…‘terutama oleh generasi orangtua kita. Untuk laki-laki; lulus kuliah ➜ bekerja, karena kedepannya dia akan membangun keluarga dan menjadi kepala rumah tangga sehingga diharapkan bisa memenuhi kebutuhan finansial secara mandiri. Sedangkan perempuan; lulus kuliah ➜ bekerja atau menikah. Perempuan mendapat dua opsi karena tidak berada pada posisi wajib menafkahi.

Sebentar, santai dulu.

Pendapat di atas tidak semerta-merta semuanya. Saya memaparkan gambaran umumnya saja, bukan menggeneralisasi. Ada berbagai macam kasus yang sama sekali berbeda dengan analisis saya. Tapi tidak bisa kita pungkiri bahwa memang ada standar fase hidup seperti ini berkembang menjadi konstruksi sosial yang abu-abu dalam masyarakat kita.

Bisa setuju bisa tidak, bisa benar bisa salah.

*based on my personal observation

   WHAT HAPPENED IN MY CIRCLE**   

Saya perempuan, sudah lulus kuliah. Apa selanjutnya? 

Berada di lingkungan ukhti-ukhti saat kuliah, topik menikah seringkali dibahas. Apalagi dikala mengerjakan skripsi sampai wisuda, kemudian beberapa teman akhirnya menikah. Tidak hanya dikalangan ukhti-ukhti sih, bahkan semenjak semester 5 banyak teman kuliah saya mulai memasang status WA "semester lima makin beratt, nikah aja deh"γ…‘yang sama sekali bukan solusi, tentunya.



Begini, disclaim dulu. Saya mau meluruskan sesuatu. Mungkin banyak yang menganggap para ukhti-ukhti atau ikhwan-ikhwan di luar sana pikirannya melulu tentang menikah. Bukan seperti itu. Yang terjadi di lingkungan saya adalah; menurut mereka pernikahan merupakan ibadah besar, separuh agama, penyempurna agama, bukan suatu hubungan main-main. Memilih pasangan bukan hanya karena cocok dan cinta, tapi juga agama, masa depan pribadi, kualitas keturunan, dan kehidupan setelah kematian, akhirat. Karena hal tersebut disadari betul kekrusialan dan kesakralannya, hingga seakan-akan hanya berkutat pada masalah itu saja.

Ya karena mereka meletakkan pernikahan sebagai salah satu tujuan utama hidup.

Contohnya dalam lingkaran pertemanan kecil saya; D ingin kembali ke daerah asalnya di Flores untuk berkontribusi dalam pendidikan, I juga sama punya visi luar biasa tentang pendidikan generasi mendatang, N punya niat teguh melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya ke luar negeri, L yang semakin aktif dengan kegiatan sosial di daerahnya. Kalau kami berkumpul, ya bicarain cita-cita ya menikah. 

**based on my personal experience

   WHAT HAPPENED IN MY FAMILY   

Sebenar-benarnya, tidak ada yang lain selain melanjutkan kuliah. Karena dari awal sudah diwanti-wanti orangtua, supaya anaknya mencapai jenjang pendidikan lebih dari orangtuanyaJadilah selepas wisuda saya tidak keburu mencari pekerjaan melainkan informasi mengenai program magister plus beasiswa, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Ditambah memang orangtua tidak pernah menyuruh untuk bekerja. Alasan mereka, "umik dan abi pingin kamu S2, dan selama umik dan abi mampu, kebutuhanmu urusannya umik sama abi."

Menurut saya, pada saat itu, menikah adalah sesuatu yang tidak perlu diusahakan se ngoyo untuk lanjut kuliah atau bekerja. Urusannya fokus kepada Allah. Berbeda dengan lanjut kuliah atau bekerja. Ada dokumen yang harus dipersiapkan, memperlajari materi-materi 'duniawi', intinya dicapai dengan aktifitas 'fisik'. Eh gimana sih jelasinnya?

Oleh karena itu, ketika mendapat pertanyaan, "Nida sudah siap menikah?", rasanya awang-awangan

Sedari SMP, saya sudah diajak umik berdiskusi masalah rumah tangga. Baik rumah tangga umik dan abi, keluarga besar, tetangga, dan teman-temannya umik. Bukan, bukan ghibah tapi umik menunjukkan fakta lapangan pernikahan yang terjadi di sekeliling. Mengenai pentingnya komunikasi, pembagian tugas domestik, pemenuhan kebutuhan dasar, peran pendidikan dalam rumah tangga, problematika antar ipar atau dengan mertua, urusan keturunan maupun anak angkat, harta warisan, dan lain-lain. Belum lagi pihak ketiga.

  Banyak pahitnya daripada manisnya.  

Ditambah banyaknya orang-orang berkisah tentang rumah tangga mereka di sosial media. Ntah kenapa justru lebih sering menemukan yang bermasalah daripada yang baik-baik saja. Sampai-sampai saya muak dengan kisah percintaan laki-laki dan perempuan pada cerita-cerita fiksi atau drama Korea. Euh saya gak kuat nontonnya, it's just drama! Maaf kalau terdengar offensive


Nah nah. Tapi begini, semenjak kuliah saya kerap bertanya pada umik; "sebenarnya umik pingin aku jadi apa sih?" dan jawabannya selalu; "menikah, dapat jodoh yang solih, menghargai, dan sayang kamu. Perempuan itu setinggi-tingginya berkarir utamanya ya jadi istri dan ibu yang salihah."

Then I rolled my eyes, duh.

Mungkin bagi sebagian pemuda-pemudi di luar sana, pernyataan di atas terdengar kolot, nggak mengikuti perkembangan zaman, dan nggak emansipasi wanita kesetaraan gender (+feminisme((?))). Namun nyatanya umik adalah ibu rumah tangga, istri, ibu, sekaligus seorang wanita yang aktif berkarir di bidangnya (di luar rumah). Jadi saya tidak protes ketika umik berkata begitu, karena nyatanya beliau memberikan saya contoh realistis bahwa perempuan bisa menjadi ibu dan istri yang baik di rumah SEKALIGUS wanita karir yang berguna bagi masyarakat di luar rumah.

Jujur, saya bukan penganut aliran menikah adalah segala-galanya, jalan satu-satunya masuk surga. Semua orang punya kapasitas dan peran masing-masing dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, beragama, berkeluarga, dan mencapai tujuan akhir. Memang kedudukan pernikahan dalam Islam sangat mulia, tapi ada yang membuatnya menjadi haram, sunnah, dan wajib. Tidak semua orang sampai pada tahap wajib, bahkan bisa jadi haram.

Bila pun sudah sampai tahap wajib tapi Allah belum mengulurkan jodoh, apa berarti menjadi perempuan atau laki-laki tanpa surga? Ada banyak hal baik dan bermanfaat di luar sana yang bisa dilakukan sembari menunggu.

Jadi saya nggak ambil pusing ketika umik selalu mengungkapkan doa; kepengen saya menikah.

   WHAT WAS ON MY MIND   

Saya itu orangnya bisa dibilang lumayan overthinking. Hampir segalanya dipikir sampai pusing. Plus-minusya, rugi-untungnya, rencana sampingan B-Z apabila A gagal, bagaimana kalau begini-begitu, dan lain sebagainya. Jadi tentang menikah saya nggak bisa bawa santai, selalu terngiang-ngiang pahitnya kisah menikah. Hingga pernah saya berada di suatu masa, memutuskan untuk lebih baik tidak menikah. Karena bila yang dicari cinta, saya cinta diri sendiri kok. Apabila yang dicari kasih sayang, saya sudah mendapatkannya dari orangtua kok. Apabila kebahagiaan, saya bisa bikin bahagia diri sendiri kok

Saat teman-teman seumuran mulai ada yang menikah. Tentu saya jadi kena pertanyaan, "kapan nyusul?"γ…‘I was only 21/22 yo back then. Saya nggak pernah terganggu karena; percaya bahwa Allah tahu apa yang dibutuhkan, kapan, siapa, di mana, apa, dan bagaimana yang terbaik untuk hamba-Nya ( ( tentu setelah melewati usaha dan doa ) ). Sering sekali ketika saya sedang berkendara sendiri sambil melamun mencamkan dalam hati; "kalau Engkau rasa aku belum pantas nggak papa ya Allah, ikhlas. Nanti aja ya Allah kalau Engkau anggap aku sudah siap dan pantas."

Tapi justru semua pikiran yang saya anggap idealis dan penuh logika itu, membawa saya pada titik lelah, pasrah, let it flow

Kira-kira sejak SMA, saya menanamkan sebuah mindset "I'm not like other girls," dimana cewek itu lekat dengan stereotipe mengedepankan perasaan, irasional, gak pake logika. It's scary for me, back then. Saya nggak mau hidup seperti itu, mengerikan. Saya lebih suka dan 'berusaha' menjalani hidup dengan stereotipe laki-laki yang mengedepankan logika, it sounds cool.

Dan ya, jujur saja, pada saat itu saya merasa lebih keren daripada cewek yang 'menye-menye'. Baru tahu kemudian, bahwa hal tersebut dinamakan internalized misogyny atau internalized sexism yaitu memberlakukan/mengharuskan perilaku seksis seperti apa yang kita pelajari kepada orang lain dari gender yang sama. Bukan hal baik.

   WHAT ACTUALLY WAS HAPPENED TO ME   

Nah, pertanyaan, "Nida siap menikah?" datang pada saat saya berada di titik lelah, pasrah, dan let it flow tersebut yang disebabkan oleh dua hal; 

SATU, pusing mikirin pilihan jurusan S2. Saya lulusan jurusan Bahasa dan Sastra Arab, kenyataannya tidak cakap berbahasa Arab. IPK saya bagus loh, alhamdulillahsumma cum laude. Tapi rasanya kaya ga guna, malu, dan miris, dan ga guna pheww. Saya pingin ambil jurusan yang linier, tapi karena nggak mau belum bisa bahasa Arab, jadi berusaha mengakali mencari jurusan yang masih berhubungan.......tapi nggak ada bahasa Arabnya *lah*.

Benerlah emang, nilai IPK bisa berpengaruh tapi ga semerta-merta karena skill juga penting. Teori bagus, aplikasi ga jalan. Ya sudah.

DUA, beberapa minggu setelah wisuda saya mendapat sebuah pesan dari kunkruu di Thailand yang waktu itu bertanggungjawab atas kegiatan PKL saya di sana. Beliau menjelaskan bahwa yayasan akan mendirikan jenjang sekolah dasar. Butuh guru. And I was offered, employed as an English teacher. 

It's crazyγ…‘at least for me.

Why crazy?

Di luar negeri. Nah, bukannya saya glorifikasi luar negeri lebih bagus daripada dalam negeri, tapi saya itu punya ketertarikan sangat-sangat besar terhadap lingkungan baru. Dan tentu saja dengan pergi ke Thailand saya akan mendapatkan semua itu. Bahasa baru, lingkungan baru, orang-orang baru, makanan baru, budaya baru! Saya ingin berpetualang, ke luar dari zona nyaman, berjuang hidup mandiri di atas kaki dan finansial yang mandiri, menemukan jati diri :"

Ngajar bahasa Inggris. Ya Allah, umik, abi, ampuni aku huhu. Saya lebih mumpuni (dan suka) bahasa Inggris daripada bahasa Arab T_T

Nggak diminta dokumen apapun. Saya tanyakan untuk meyakinkan, dokumen apa saja yang harus saya persiapkan? And he said nothing (ya tentu saja di samping dokumen-dokumen untuk kelegalan pergi dan bekerja di Thailand). Ya jadi long story short, dulu saya dikirim ngajar ke Thailand 'resmi'nya sebagai guru bahasa Arab, tapi nyatanya di lapangan malah ngajar kelas bahasa Inggris. And once he said my English is good. Dan emang private school sih, jadi tidak terikat dengan ribetnya birokrasi pemerintah.

Tapi coba tebak :))))))))))))))))))) abi umik ga ngebolehin dong :" hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh. Will talk about the depression because of this later :"

They said, "belum ada mahramnya, kalau udah punya suami terserah kamu sama suamimu gimana. Tapi sekarang kamu masih tanggungjawabnya abi, abi belum bisa."

That's.

   THEN,   

So yeah, those two things made me step back and gave up on my life for a moment. Felt like I lost the purpose of life. I kept thinking all day long, everyday. Untuk lanjut kuliah masih nggak jelas, kerja di Thailand yang sudah jelas, nggak dibolehin. Harus gimana rencana selanjutnya?

It's not easy for me tbh at that time, was so hard. I suffered, even I lost my faith hhh. 

Dan pada saat-saat tersebut, pertanyaan siap menikah diajukan kepada saya. So I said;

"kalau terus dipikirin, mungkin aku gak bakal siap selamanya. InsyaaAllah aku siap."

Mencoba memberi kesempatan kepada diri sendiri dan keadaan, saya serahkan pada Allah. 

Mungkin, ini waktu yang tepat? Mungkin, memang ini rencana Allah untuk hidup saya? Pelan-pelan saya ngobrol lagi dengan diri sendiri. Saya mengamini bahwa; man proposes, God disposes. Kalau Allah 'menggerakkan semesta' berbalik dari apapun yang telah saya rencanakan, bisa apa?

29 comments:

  1. Duh, sebuah kesempatan besar yang disia-siakan ya. Gatau, aku baca perihal dilarang orangtua kerja di Thailand ini kayak hati aku yang langsung nyes. Sangat amat disayangkan kalau buat aku. Dan kalau aku, pasti juga akan stress berat kalau gak jadi hanya karena masalah izin orangtua. Oh my.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeah, was so so so hard. Nggak bisa berhenti untuk bertanya, "kenapa? Kenapa nggak boleh? Aku pergi bukan untuk main."

      Sejujurnya masih beberapa kali mengira-ngira gimana jadinya kalau diperbolehkan pergi bekerja ke sana, what will happen to me? Hal apa saja yg bisa didapat/dicapai? Dll. Hal tsbt yg pada saat itu saya anggap what I want what I need, bisa jd salah bs jd benar, krn blm terjadi.

      But now looking back and what I'm doing right now, feeling grateful. Karena yg skrg sdg saya jalani alhamdulillah ternyata jg kebahagiaan, yg nyata. Meski berbeda jalan dan tujuan :)

      Delete
  2. Biarpun ada generalisasi sama ukhti-ukhti yang begitu, saya tetap memandang tiap manusia itu berbeda. Toh, saya juga punya teman "ukhti" yang sudah di atas usia 25, tapi masih santai aja akan pernikahan. Dia masih pengin berkontribusi buat keluarganya maupun masyarakat sekitar.

    Saya kurang paham apakah karena saya cowok yang mesti mandiri, atau kondisi finansial keluargamu lebih baik ketimbang saya, sehingga orang tuamu bisa bilang kalau tanggung jawab akan dirimu bakal mereka penuhi. Saat mendengar hal itu pasti menjadi kemewahan banget buat saya. Haha. :')

    Saya pernah merencanakan menikah beberapa kali sesuai dengan pacar pada masanya. Gagal kabeh karena sepertinya saya juga belum siap lahir dan batin untuk hal itu. Atau mengikuti nasihat-nasihat orang bijak: mungkin belum berjodoh. Saya sampai pernah merenung enggak pengin menikah, jika patah hati sama pacar aja rasanya sepahit itu. Bukan bermaksud berpikiran buruk, tapi risiko akan cerai pun terlintas begitu saja di kepala. Terus akhirnya jadi selektif banget buat cari pasangan biar ke depannya bisa meminimalisir kejadian konflik hebat sampai memilih bubar. Butuh orang yang sanggup bertahan, sekacau apa pun kondisi saya. Begitu juga dengan saya yang harus kuat mempertahankan relasi. Dengan kata lain, perlu sama-sama mendewasakan diri terlebih dahulu dan menyiapkan semuanya sampai bilang: oke, dialah orangnya, inilah waktunya.

    Soal enggak dapat izin dari orang tua buat melakukan suatu hal itu cukup pelik ya. Karena sejak kecil terdoktrin buat patuh, nekat melawan bisa durhaka, bahkan jalannya tak akan mulus lantaran enggak direstui. Kadang saya benci hal semacam ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya begitu, kalau nggak punya teman yang berasal dari suatu golongan tertentu, biasanya akan muncul ya stereotipe yg berkembang di masyarakat.

      Saya nggak tahu juga ya, hehe. Tapi mungkin karena prinsip orangtua saya adalah; "anak-anak nggak minta dilahirkan, jadi selama masih jadi anak ya semuanya tanggungan orangtua." Etapi ini bukan berarti ngajarin kurang ajar semena-mena. Ya gitu sih, setiap keluarga punya kebijakan masing-masing :)

      Hahaha, jangankan hanya karena putus, baca-baca cerita patah hati orang lain atau perceraian aja udah bikin mundur duluan, heuu.

      Saya juga pernah selektif (menentukan tipe dan syarat, nanti maunya suaminya harus A B C D). Tapi akhrinya sampai di masa udah ga mikirin tipe. Kalaua jodoh ya jodoh, kalau nggak ya nggak.

      Yes, sometimes (or many times?) let the time passes us by and see what it brings to us :))

      Betooooool sekali ya Allah T_T pada waktu itu saya hanya butuh ijin orangtua. Saya bisa saja pergi tanpa pamit karena untuk biaya dan lain-lain saya sudah siap. Tapi yang terpikir adalah nanti perjalanan bagaimana. Bagaimanapun saya tidak ingin gegabah juga. Dan mereka orantua yang baik, saya yakin larangan mereka bukan untuk keburukan saya.

      Delete
  3. Beb, gw aja nikah umur 30. Bini gw juga umur 30. Santai beb. Kalo udah waktunya, tau-tau ada jalannya. Pasrah dong? Enggak. Gw berusaha menjalani hidup yang sudah digariskan Tuhan. Gak perlu pusing nanti nikah sama siapa. Kalo udah waktunya ntah gimana jadi ketemu jalannya.

    Gw juga orang yang gak memusingkan amat dengan omongan orang. Kapan nikah adalah pertanyaan yang sering banget gw denger. Tapi gw jawab santai aja. Kalo nanya molo jawab aja: 'Emang situ mau nyumbang berapa sih nanya mulu kapan saya nikah?'

    Gw jamin abis itu gak berani nanya-nanya lagi.

    Tentu kalo mentalnya sekuat gw, hahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentu saja hehe. Saya buktikan dalam kehidupan saya sendiri. Banyak sekali kejadian yang tak terduga, ada saja jalannya.

      Nah ya benar. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu ditanggapi santai saja.
      Bisa jadi dia beneran kepo, bisa jadi beneran basa-basi, bisa jadi emang mau segera nyaipin kado apa buat nikahan. Banyak motif, santuy.

      Tanya balik, "kapan mati?" Wkwkwkwk.

      Delete
  4. Semangat mbak, masih banyak hal yang bisa disyukuri dari hidup mbak, yang penting adalah gak pernah merasa puas sama ilmu pengetahuan, di mana juga merupakan sebuah modal jika suatu saat nanti menjadi seorang ibu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, betul sekali (1)!
      Rasanya memang bisa saja ada keluhan yang timbul diantara kenikmatan hidup. Justru yang butuh kesabaran, keikhlasan, adalah mensyukuri segala yang telah ada.

      Betul sekali (2)!
      Pengalaman jadi seorang anak yang suka penasaran dgn berbagai hal, jadi ibu (orangtua lah ya) semacam dituntut spt Jack of all trades (bisa dan tahu apapun).

      Delete
  5. heiiii peluk jauuuuh, tetap semangat yaaa.. ikhlas dan percaya saja kl pilihan orangtua ada baiknya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Ellaaa :)))
      Sudah aku dapat pelukannya ehehhe.

      Siap! Terima kasih banyak ^_^
      Bagaimanapun, yang sudah terjadi sekarang ya dijalani sebaik-baiknya hehe.

      Delete
  6. saat hendak menikah, seluruh aspek harus diperhatikan sekali memang.. psikis sangat perlu. dan apapun itu, semoga pilihan terbaik dari Allah. Aamiin

    ReplyDelete
  7. Bener banget sih, saat kuliah sering banget banyak omongan seperti setelah kuliah mau kemana, dimana, sama siapa. Apalagi kalau udah semester-semester akhir pasti bakal macem macem ngomongnya, semua di omongin. Tapi sebisanya saat masih kuliah bisa memberikan yang terbaik sampai lulus dengan nilai yang baik. Soal nanti dimana dan kemana kita udah ada plannya, tapi kalo soal bakal dibiayain semua itu kalo di aku sih kek merasa memberatkan mereka sih, jadi kalau bisa menghasilkan sendiri dengan bekerja dengan hasil dari penghasilan sendiri ajah, walaupun sebenarnya mampu.

    Kalo soal siap tidaknya menikah... emmmm .... emm... emm....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajar sih, karena jarum kan berdetik ke kanan (maju) mustahil ke kanan (mundur). Setelah ini/itu selesai, lalu apa?

      Meski kadang menjengkelkan sih hehe.

      Yeap, tergantung kondisi keluarga dan kita sendirinya gimana sih. Semangat!

      Gimana? Siap atau tidak siap menikah? Wkwkwkwkwk.

      Delete
  8. Oh my god saya suka tulisannya mbak benar-benar menyentuhhh. Mbak mengenai stereotipe perempuan dan laki, perempuan menye-menye dan laki lebih menggunakan logika. Sebenarnya itu hanya stereotipe ya, memang bisa diubah atas kemauan pribadinya kan? Saya sendiri juga lebih mengedepankan logika, justru saya enggak bisa tuh menye-menye begitu dan pacar saya malah lebih menye-menye daripada saya yang perempuan tulen. Justru malah kebalik begini.

    Sayang banget keinginan untuk ke thailand di pupuskan begitu saja oleh orang tua, tapi memang dalam hati orang tua 'tidak akan pernah tenang' kalau anaknya belum mendapat jodoh biarpun usia kita masih menginjak usia remaja. Orang tua ingin anaknya segera laku.

    Btw aku usia 23, di tahun ini 24 dan kalangan sosial aku lagi bergantian menuju pernikahan. Muncul di sosmed akan menikah, undangan, info dari sua-sua teman, WOWWW aku juga jadi kepikiran akan pernikahan sementara aku masih belum siap lahir batin tetapi lubuk hati ibu ku ingin aku segera menikah biar pun kalau di mulut suka ditutup-tutupi. Kalau sudah begini, jadi dilema ya kita sebagai anak? Masih ingin fokus karir atau pendidikan, mengejar cita-cita setinggi kita ingin, berfokus pada diri sendiri tetapi kehidupan sosial duniawi sudah meminta untuk segera menjalin rumah tangga karena kalau menikah di usia ketuaan, sudah banyak ditakut-takuti padahal kita tidak tahu bagaimana rancangan semesta baiknya untuk kita menikah akan di usia berapa ya...

    Tetap tenang mbak, aku padamu, kita senasib kok dan aku yakin juga banyak perempuan diluar sana yang sama bingungnya seperti dialami tulisan diatas. Yah serahkan semuanya pada yang diatas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentu saja bisa! Kan namanya stereotipe adalah stigma/label kepada suatu golongan berdasarkan apa yang biasanya terlihat. Tentu saja bukan berarti setiap individu seperti itu hehe.

      Orangtua ingin anaknya segera laku, haha. Saya pernah berkelakar dengan orangtua masalah ini. "Emangnya aku barang?" gara-gara ditawarin kesana-sini (huhu, wkwkwk). Rasa khawatir orangtua dapat dimengerti sih, tapi yaaaa pada saat itu saya ga bisa terima.

      Nyatanya kita punya timeline hidup masing-masing :) Ada yang rejekinya berupa pasangan hidup (menikah), pekerjaan, atau pendidikan. Ada juga yang mendapatkan semuanya, atau malah tidak satupun dari yang saya sebutkan. Akhirnya balik lagi, apa yang ada di depan kita disyukuri. Apabila menginginkan sesuatu ya diwujudkan dengan doa dan usaha :)

      Semoga kak Nana diberikan yang terbaik, di waktu dan keadaan yang tepat ^^

      Betul sekali! Sebagai orang beriman, mari mendekatkan diri pada Tuhan :D

      Delete
  9. Mendarat dengan selamat di planet 'Bunga Lompat'.

    Weeww, pemandangan di sini cukup eksotis ya. πŸ˜‚

    Btw, kalo di hp gw ni blognya auto load mobile site mode yang tampilan temanya b banget yak. Jadi kudu ubah ke desktop site mode dulu baru keliatan tema blog sebenernya yang bagus.

    Anw tulisan-tulisannya bagus kaka. Semoga bisa terus produktif menulis. πŸ‘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Welcome sir, have a seat and a cup of chamomile tea (a thumb).

      Ya, beginilah rupa 'gubuk online' saya wkwkwkw.

      Yeap, and I personally totally okay with that. Sederhana tapi navigasinya juga mudah, jadi yaa ga ada yang perlu diubah. Wah, terimakasih banyak, kuanggap pujian ya heheheh.

      Terimakasih atas doa baiknya, semoga kembali ke yang mendoakan juga (a thumb).

      Delete
  10. It's been a long time since my last time read your blogpost Ra..
    Ada part yang aku sukai, penjelasanmu yang memberikan prespektif baru buatku, yang bagian kenapa ukhti-ukhti mikirnya nikah mulu, berasa tercerahkan!
    Kalau g salah waktu kita ketemu dulu itu pernah ngobrolin ini kan yah..
    Kangen pula jadinya, aku suka sekali dengan cara pikirmu..
    Thank you so much for your beautiful thought

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaaaaaaaaaaa gimana ya wkwkw, ya begitu sih adanya.
      Menjadi ukhti-ukhti lumayan berat tuntutannya, salah-salah kena ekspektasi yang zonk. Sama juga sih untuk yang non-ukhti (apaan sih).
      Namanya ekspektasi vs realita alias tuntutan masyarakat.
      Semua kalangan punya masing-masing. Bedanya, yang ukhti-ukhti ini kena ekspektasi nilai-nilai agama yang------agamanya sempurna, tapi kan si manusia fitrahnya khilaf :( ya gimana dong, huhu.

      Sama-smaa kak!
      Aku juga kangen loh~ ngobrol sama kakak bikin pulangnya aku jadi lumayan capek. Meski sambil duduk dan ngopi santai tapi pikirannya bekerja keras ehehe.

      Delete
  11. Wah tawaran yang bagus itu. Sayangnya terlalu jauh kalau harus ke luar negeri.

    Kalau menurut saya, semoga mungkin bermanfaat, selagi menunggu jodoh anti bisa sekalian bekerja sebagai guru di sekolah islam. Karena itu pekerjaan yang paling pas untuk perempuan kata sebagian ulama. Gurunya juga guru anak-anak. Kalau guru SMP/SMA dan banyak anak laki-lakinya khawatir termasuk ikhtilat.

    Kalau sudah ketemu jodohnya, barulah ikut apa kata suami. Hehe. Semoga segala langkah anti dimudahkan. Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus sekali, memang. Mengenai tepat tidaknya, sampai sekarang, kalau dipikirkan tidak juga ketemu jawabannya, hehe.

      Iya alhamdulillah ditengah kepusingan itu Allah berikan kesempatan mencoba beberapa pengalaman baru.

      Dan alhamdulillah jodohnya berkata, ikutilah kata hatimu selama tidak menyalahi aturan agama dan norma. Aaamin :D

      Delete
  12. urusan nikah apa urusan kedepan nya saja mba, jangan takut masalah rejeki juga. yang penting mental udah siap aja hehe bismillah gtu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, tidak ada yang perlu ditakutkan. Setiap orang punya linimasa hidup masing-masing :)

      Delete
  13. Pstinya dilema banget yang jika visi kita diveto orang tua. Tapi kalo saya pribadi lebih memilih nurut ortu sih.

    Tapi apapun itu bergantung bagaimana komunikasi kita dengan ortu juga.
    Tetap semangat mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, ya pada akhirnya saya juga menuruti apa kata mereka. Bismillah, insyaAllaah keputusan yang tepat dan membawa berkah ^^

      Siap! Terimakasih Bang Day :D

      Delete
  14. Menurutku itu pertanyaan paling horror pas single, kapan nikah? Hehe
    Mba zahra..nikah itu bukan perlombaan yg harus cepet2, jadi pertimbangkan lagi pikirkan lagi slow saja sambil berbenah diri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Horor dan malesin! Tapi kadang saya mencoba mengerti sih, yaa mungkin mereka sekadar ingin tahu saja. Sapa tau mau nyiapin lowongin waktu dari jauh hari supaya bisa datang hehehe.

      Bener banget kak, saya setuju :D

      Delete
  15. Pertama, nama blognya catchy banget dah, Bunga Lompat. Lucu dan menarik.

    Kedua, sebenarnya ini komentar kedua karena. Komentar pertama tidak tahu nyangkut dimana karena pas tekan tombol publish taunya internet di rumah ngadat dan hasilnya hilang semua. Padahal, panjang komentarnya. #Nasib

    Postingan yang menarik dari berbagai segi. Dari segi penulisan menunjukkan penulisnya mahir dalam bercerita. Tulisan sepanjang ini bisa terasa mengalir dari pangkal sampai akhir. Keren.

    Cuma yang paling menarik itu adalah soal isi yang disampaikannya, termasuk pemikiran penulisnya.

    1. Pembahasan masalah sosial budaya dan kebiasaan masyarakat terkait pernikahan.

    Secara teori, pernikahan itu adalah sebuah opsi dari kehidupan. Setiap manusia boleh memilih jalannya masing-masing, mau menikah atau tidak seharusnya tidak bisa diintervensi oleh orang lain.

    Cuma, sebagai makhluk sosial, manusia juga harus bermasyarakat. Otomatis dengan keharusan itu, ada nilai, norma, etidak, tradisi dalam masyarakat yang mengikat dan pada akhirnya memberi batasan pada kebebasan tadi.

    Pertanyaan "Kapan kamu mau nikah?" adalah bentuk batasan dalam masyarakat tadi. Tidak kaku dan sebenarnya tidak mengikat, hanya menghasilkan tekanan tersendiri saja bagi yang mendengar.

    Batasan ini belakangan, berdasarkan pengamatan, ada kecenderungan melonggar karena semakin besar gelombang globalisasi dimana manusia semakin dibebaskan dalam memilih jalannya sendiri semakin kuat mengikis pemikiran lama.

    Jadi, tidak heran banyak orang yang belakangan memilih tidak menikah sebagai jalan hidupnya dan rasanya semakin banyak yang bisa menerima kenyataan itu.

    2. Larangan ayahanda untuk tidak menerima pekerjaan di luar negeri sendiri mencerminkan sebuah "batasan" dalam masyarakat. Juga bentuk dari penerapan sistem patriarkat dimana hak individu tidak sepenuhnya diberikan. Ada sebagian yang masih dipegang oleh orangtua.

    Disebut bagus, ya pasti ada bagusnya, disebut tidak bagus, ya bisa juga karena merupakan kekangan dan tekanan tersendiri dari masyarakat. Yang manapun sebenarnya akan ada konsekuensinya.

    3. Boleh tertawa.... hahahahahahahahahaha... panjang banget baca lulusan Sastra Arab, tapi tidak mahir bahasa Arab (saya yakin penulis pasti bisa, cuma tidak mahir).

    Bukan ngeledek loh.. soalnya hal yang sama terjadi pada diri sendiri. Saya lulusan sastra Jepang, tapi sangat tidak mahir bahasa itu. Beneran. Sama juga pada akhirnya saya lebih menggunakan bahasa Inggris dan juga pernah jadi guru bahasa Inggris.

    Entah kenapa alasannya, tapi begitulah kenyataannya.

    Tapi, percayalah. Pada akhirnya nanti ada hikmahnya.

    4. Tidak ada sesuatu yang sia-sia. Salah satu komentar di tulisan ini menyebutkan bahwa karena larangan ayah, tawaran pekerjaan ke Thailan tersia-sia.

    Cuma, saya tidak bisa memandangnya seperti itu. Banyak hal buruk yang terjadi dalam hidup kita, dan kita memandangnya kesialan. Tapi, tidak jarang, "kesialan" tadi itulah yang mengarahkan kita kepada sesuatu yang lebih baik.

    Saya pikir itu merupakan kehendak Allah yang mengatakan kepada kita bahwa ada jalan yang lebih baik. Bukan sesuatu yang harus disesali, bahkan seharusnya disyukuri, walau pasti terasa susah.

    Lagipula, disana juga terlihat kasih sayang orangtua dalam melindungi anaknya. Tidak mudah loh jadi ortu. Saat ini saya menyadari bahwa terkadang kita harus mengambil keputusan yang tidak menyenangkan dan mengenakkan untuk anak. Tidak nyaman di hati, tetapi keputusan harus dibuat demi kebaikan bersama.

    Saya paham perasaan ayah si mbak. Ia sebenarnya pasti berat tidak membolehkan anaknya "berkelana" dan mendapat pekerjaan yang baik, tetapi ia harus melakukannya.

    Btw, sudah kepanjangan rasanya komentar ini..

    Salam kenal dari Blogger Tua asal Bogor

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya.

Bila berkenan sila meninggalkan komentar, supaya; 1) saya bisa tahu kamu, kita berkenalan, saya mampir ke blog kamu, kita menjadi teman! 2) beritahu saya apabila ada kritik dan saran.

Sekali lagi, terimakasih banyak :)

Instagram