Bagaimana Rasanya Menikah?

Zahrah Nida

Bagaimana rasanya menikah?

Sebuah pertanyaan yang beberapa kali ditanyakan oleh teman-teman.....bahkan oleh saya sendiri semenjak sehari, sebulan, hingga berlima bulan dari beberapa teman.

Sejujurnya, saya agak ewuh pakewuh menuliskan tentang pernikahan. Apalah, baru juga menikah lima bulan, sosoan, masih bau kencur. Hanya, kembali lagi ke tujuan saya menulisㅡterutama di blog ini.

Menulis untuk mengabadikan momen, seperti memotret, hanya saja dengan kata-kata. Kemudian tidak tahu kapan dan bagaimana tulisan kita menemukan pembacanya yang tepat. Kiranya ada hal positif yang bisa dipetik dan hal negatif yang bisa dijadikan pelajaran, setidaknya ada manfaat Allah memberikan saya kemampuan untuk berpikirㅡdan menulis.

Jadi, inilah tulisan pertama saya tentang pernikahan.

Rasanya menikah? Memiliki seorang teman sangat dekat untuk berbagi apapun, secara zahir maupun batin. Bagaimana tidak, kini tidak lagi saya sebagai putri umik dan abi atau dia sebagai anak lelaki mamah. Tetapi ada status baru; saya sebagai istrinya, dan dia sebagai suami saya.

*ohiya, mohon kesadarannya ya, bahwa setiap pasangan punya ceritanya masing-masing. Boleh dibandingkan tapi jangan dibanding-bandingkan :) terimakasih!

Canggung luar biasa

Kami berawal dari orang asing untuk satu sama lain. Memang, sudah pernah berkenalan lewat blog, saling meninggalkan komentar, terhubung di berbagai media sosialㅡhanya sebatas itu. Bukannya kami adalah teman blog yang menjadi teman dekat hingga saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Sekadar berkenalan sambil lalu.

Saya tahu dia, tapi tidak mengenalnya

Lalu, bagaimana bisa akhirnya berakhir di pelaminan? Melalui yang orang-orang katakan sebagai taaruf.

Pertemuan pertama saat dia datang ke rumah menemui umik dan abi. Kali kedua setelah ijab qabul, canggung luar biasa ketika itu dia datang ke ruang tamu bersama abi menemui saya yang didampingi mamah (ibunya) dan umik. Kemudian menyematkan cincin, bersalaman, lalu duduk berdampingan untuk tanda tangan buku nikah. Selanjutnya secara paksa disuruh masuk ke dalam kamar oleh umikㅡmemberi kami kesempatan berbincang hanya berdua, untuk pertama kalinya.

Extremely awkward.

Tiba-tiba dalam sehari dan seterusnya ada seorang lelaki yang akan membersamai hidup saya.

Khawatir akan banyak hal

Minggu-minggu awal menikah, kalau diingat-ingat lagi, saya pusing sampai bingung bagaimana mengungkapkan. Biasanya, setelah menikah orang akan bahagia karena sah bersatu secara agama dan negara dengan restu keluarga. Tapi, terlalu kepikiran atau overthinking took over the moment where I should be happy.

Beberapa bulan sebelum menikah, akumulasi asumsi yang terus bergemelut di dalam kepala mengantarkan saya pada satu kesimpulan: akan lebih baik bila saya tidak menikah

Saya mulai diajak umik ngobrol dunia orang dewasa dan pernikahan sejak SMP. Kami menganalisa kehidupan pernikahan dari ranah pasangan suami-istri, mertua, ipar, tetangga, bahkan harta warisan. Alih-alih kisah bahagia, saya jadi banyak tahu perjuangan berdarah-darah yang dilakukan pihak suami, istri, ataupun mertua untuk menyelamatkan sebuah pernikahanㅡyang buat saya adalah, penyiksaan batin tiada akhir. Kalau sudah tidak cocok, ada sakit hati, mengapa harus dipaksakan untuk bersama sih?

Cerita bahagia antar dua sejoli lebih banyak saya dapatkan lewat cerita atau drama Korea daripada kejadian-kejadian nyata di sekeliling saya. Sampai pada satu fase saya sudah tidak lagi menikmati nonton drama romantis karena merasa muakㅡit's just drama.

Dan kepada Rumput, saya utarakan itu semua. Saya merasa dia harus tahu apa yang saya pikirkanㅡkhususnya mengenai  hal iniKemudian perihal serba-serbi pernikahan; anak, gaji, uang, pekerjaan, pekerjaan rumah, akhirat, ibadah, tempat tinggal, manajemen waktu, tugas istri dan suami dalam islam, mertua, orangtua, impian gila saya dan lain-lain-lain-lain.


Zahrah Nida

Saya tidak ingin pura-pura baik-baik saja di depannya. It's okay not to be okay, right?

And he said, "aku belum berpikir ke arah sana sedalam itu sebelumnya, kamu bikin aku jadi mikir.....tapi itu kejauhan, dan itu semua masih asumsi. Coba nikmati apa yang ada sekarang. Dibikin sederhana gitu loh....."

Suami istri, saling melengkapi. Terhadap kalimat tersebut saya setuju. Ketika saya sudah mulai tenggelam dalam pusaran pikiran yang saya buat sendiri, dia yang akan menarik saya, membantu saya mengurai benang kusut segala kemelut yang dibikin-bikin sendiri.
Berbagi s-e-m-u-a-n-y-a

Melabeli diri sendiri sebagai ambivert, yaitu seseorang yang berada ditengah-tengah introvert dan ambivert, saya tidak punya masalah bergaul dengan orang baru ataupun tampil di muka umum. Saya berteman, bersahabat, dan berkenalan dengan banyak orang. Tapi disisi lain, secara natural mengotak-ngotakkan lingkaran pertemanan. Dengan lingkaran A, bicara tentang A. Lingkaran B, tentang B. Saya tidak bisa menceritakan semua aspek kepada A dan B. 

Bukan berarti menjadi orang yang berbeda di tiap lingkaran pertemanan or being fake. Lebih kepada menempatkan diri sesuai dengan porsi.

Pun dengan orangtua. Saya sangat dekat dan manja kepada mereka. Hampir semua hal saya ceritakan, terutama kepada umik. Saya tidak punya rasa sungkan untuk mengungkapkan perasaan dan pendapat. Memang sedari kecil kami dibiasakan dan dididik untuk terbuka dengan anggota keluarga yang lain. Umik bilang, "bilang sama umik abi, karena kamu masih tanggung jawab umik sama abi. Kalau ada apa-apa, umik sama abi juga yang kena."

Tapi sebenarnya ada beberapa hal yang tidak  saya sampaikan ke umikㅡalih-alih ke Rumput. Bukannya saya tidak percaya ke umik, hanya saja saya merasa ada beberapa fenomena zaman sekarang.........hanya millennials yang paham.

Kepada Rumput saya meruahkan segalanya. Segala yang sebelumnya saya kotak-kotakkan, tidak dibagi dengan semua orang. A hingga Z. Hal paling cringey sampai isu-isu fenomenal kemanusiaan yang sedang hangat diperbincangkan oleh anak muda termasuk saya, yang oleh kalangan orangtua mungkin isu-isu seperti ini tidak masuk akal dan tabu

Saya pernah membaca sebuah tulisan, mengenai tutup rapat masa lalumu yang buruk kepada pasangan, karena dengannya kamu menjelang masa depan. Tapi buat saya pribadi, mengetahui masa lalu pasangan adalah salah satu cara untuk mengenal lebih dalam. Apalagi bagi kami yang tidak pernah kenal dekat sebelumnya.

Benar, bahwa ketika Allaah sudah menutup aibmu, maka janganlah kamu membukanya di depan manusia lain. Dalam hal ini, ya bukannya kami semata-mata saling buka aib, melainkan berkisah tentang apa saja yang pernah dilakukan di masa lalu supaya muncul pengertian daaan mengambil pelajaran dari itu semua. 

Kompromi Tiada Henti

Kompromi merupakan sebuah upaya atau bentuk komunikasi untuk mencapai kesepakatan antara dua pihak yang berbeda pendapat (berselisih paham). Bayangkan bila harus berkompromi terus-menerus sepanjang hidupmu? Terdengar mengerikan? Iya, bila menikah tanpa niat ibadah, kasih sayang, sabar, dan keyakinan badai....pasti berlalu.

Saya pernah membaca tulisan mbak Anya, founder sahabatjiwa.org, "kebanyakan kasus perceraian disebabkan karena mereka sudah tidak mau lagi berkompromi."

Lantas, aku bertanya kepada umik dan abi (di tempat dan waktu terpisah), "kalo umik/abi nyebelin, bikin sakit hati, perbuatannya ga sesuai dengan yang kita inginkan, ga bisa dinasehati untuk kebaikan.....kenapa masih bertahan? Toh cerai diperbolehkan."

Entah mereka telepati atau bagaimana, jawabannya sama: diniatkan ibadah. "Ibadah itu ga ada yang muluss cuma enak doang, pasti disitu ada usaha. Entah itu melawan malas bangun tahajud, nahan lapar, capek mikir belajar, kehujanan ke tempat kerja, rela berbagi rizki untuk bersedekah, jalan panas-panas ke masjid, apalagi menikah yang merupakan ibadah seumur hidup. Ujiannya lebih besar dan banyak."

Lagian, misalnya nih ada tindakan pasanganmu yang tidak sesuai keinginan; dia A, kamu maunya B. Kamu sudah tahu bahwa selama ini dia A. Lalu kamu mau ubah dia menjadi B dalam hitungan hari? Bulan? Tentuuuuuu tidak semudah itu. Butuh kesabaran, nah sabarmu sampai mana? 

Mudah sekali menuliskan hal-hal di atas. Pada prakteknya? Susah, makan hati, ada tangis, amarah, putus asa, kecewa, menyerah. Akhirnya balik lagi ke Allah.....niat ibadah.

Dicintai Mencintai

Kayaknya daritadi hal-hal yang bikin mumet. Di akhir bagian ini, it's about love and being loved.

Alhamdulillah, hidup saya diselimuti cinta dan kasih sayang sejak lahir oleh orangtua, keluarga, saudara, teman-teman. Dulunya saya berpikir, cinta dari mereka sudah cukup. Baru saya rasakan, it's slightly definitely differently different.

Cinta kasih orangtua kepada anak dan sebaliknya adalah definisi unconditional love. Karena 1) kita tidak tahu akan menjadi seperti apa anak kita, tetap dialah anak kita 2) kita tidak bisa memilih lahir dari orangtua yang seperti apa, jadi apa adanya dan adanya apa mereka ya diterima.

Berbeda dengan cinta kasih kepada pasangan. Dengan kesadaran penuh kita memilih dia untuk dikasihi dan dicintai, yang diharapkan juga akan mengasihi dan mencintai kita.

Saya tidak menganut berpacaran sebelum menikah sebagai sarana mengenal pasangan lebih dekat sehingga ga kaget-kaget banget waktu udah nikah.

Well, justru aku ingin 'kejutan'. Saya ingin merasakan semua hal romantis (ew?), untuk pertama kalinya, dengan seseorang yang sudah sah untuk aku cintai dan mencintai saya secara halal. Deep talk, holding hands, kissing, hugging, anything lah you name it. Kami yang berawal dari orang asing, kemudian menjadi pasangan......oh this feeling is glorious. Ada letupan perasaan dan senyum malu-malu, grogi keringat dingin, dan getar nyaman yang menyeruak dalam dada.

Tentu saja sebelum menikah saya pernah bersimpati kepada beberapa laki-laki. Tapi sekuat tenaga saya halangi dan bentengi, usir jauh-jauh perasaan itu. Saya tidak ingin telena oleh perasaan tanpa kepastian. Namun kini, semua teruahkan padanya.
_______________________

Mengingat kembali tiga bulan awal pernikahan saat saling berjuang untuk menyesuaikan diri, mengimbangi ritme, kompromi segala perbedaan dan merayakan awal-awal kebersamaan. Ngambek, khawatir, cemburu untuk pertama kalinya......

Jadi, bagaimana sekarang?

Mulai bisa menemukan ritme yang nyaman, baik untuk masing-masing individu maupun kami sebagai pasangan.

Yang jelas, menikah tidak semengerikan ataupun semenyenangkan yang diceritakan atau kelihatannya. Semuanya dijadikan pas oleh Allaah, setidaknya menurut pengalaman saya pribadi.

Wallahualam bisshawwaab.

23 comments:

  1. sepertinya dari sini saya makin yakin, bahwa pernikahan itu tak akan pernah bisa dibandingkan dengan siapa pun. jodoh baik begini begitu, harus melakukan ini itu tak akan pernah sama untuk membuat pasangan bahagia pada masing2 orang. namanya juga isi kepala berbeda, lingkungan berbeda, apa2 berbeda dan tiba2 harus bersama.

    dari ceritanya, saya menangkap, walo perlahan, kenyamanan dalam bersama tersebut mulai dirasakan. kecanggungan awalnya itu mulai jadi ketenangan... yah, semoga terus bersama dalam kebersamaan... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali. Begitu banyak bertebaran di media sosial mengenai kisah maupun tips pernikahan. Bagus semuanya, tapi tidak semerta-merta bisa diterapkan pada pasangan/keluarga kita. Ada banyak faktor yang memengaruhi dan membedakan.

      Secara umum, ambil baiknya. Yang buruk dijadikan pelajaran.

      Sangat perlahan, dan tanpa paksaan. Sekali lagi, waktu yang mengambil kendali.
      Terimakasih banyak :) semoga doa baiknya kembali lagi kepada yang mendoakan hehehe.

      Delete
  2. Dari judulnya aja menarik. Ini yang kadang-kadang saya dan temen-temen obrolin di antara lelahnya aktivitas di kampus. Sesekali mikirin masa depan ye kan~ Hehehe

    mulai dari sekarang kayaknya saya harus memperbanyak referensi tentang pernikahan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah semester berapa nih? Kalau dulu zaman saya mahasiswa, mulai tersebar ungkapan2 "lelah kuliah nikah aja dah" itu semester lima wkwkwkwk.

      Tugas numpuk, udah bosen kuliah, mulai kepikiran skripsi dll.

      Pendidikan pernikahan sama pentingnya dengan isu edukasi seks, menurut saya. Karena bagaimana pun 2-2nya berkaitan.

      Silakan menikmati referensi sebelum akhirnya merasakan sendiri hehehe.

      Delete
  3. Baru ngucapin sekarang meski udah tau dari kemarin, tapi gapapa deh telat. Cieee nikah, eh. Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a baynakumaa fii khoiiir. Hehehe.

    Selalu seneng kalo liat orang taaruf nikah, lucu aja gitu ngeliatnya, gemes jaadi pengen nikah juga *loh. Just kidding. Terima kasih atas sharingnya, bermanfaat kok, apalagi bener tuh menyatukan dua ego untuk bersatu adalah hal yang menurut saya sulit dilakukan.

    Bayangkan ((bayangkan))

    Gak pernah bersapa, tak bersua. Tiba-tiba udah dikamar berdua. Kalo yang pake jalur "pacaran" mungkin udah bisa memahami satu sama lain. Tapi kalo taaruf? Strugle-nya lebih wow. Pas nanya kemarin kamu pilih siapa pas pilpres?

    Maaf dinda saya konservatif.
    Kamu tega mas aku di jalur progresif!

    *Apaansih

    Intinya, semata-mata karena Allah. Mencintai karena Allah. Ibadah niatnya ya. Asik-asik jos banget pokoknya. Semoga jadi keluarga sakinah, mawadah warahmah. Selamat Teteh (sudah sah menjadi alumni mba) Nida.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, terimakasih banyak mas Alien. Semoga kehadiran Anda di bumi tidak menjadi seaneh itu. Darimana pun Anda berasal, welcome to this chaotic but wonderful earth!

      Mengompromikan dua ego memang sulit dilakukan. Bahkan ketika dalam situasi tersebut, rasanya mustahil dapat disatukan. Semoga keinginan untuk menikah tetap ada hehe.

      Wahahaha, waktu pilpres beliaunya lagi ga Indonesia jadi ga nyoblos jadi ga bisa debat *loh

      "semata-mata karena Allah. Mencintai karena Allah. Ibadah niatnya ya." Begitu mudah lisan untuk mengucap atau jari ketika mengetiknya. Nyatanya sering terlupa dan kebawa hawa nafsu manusia :(

      Semoga doa baik mas Alien kembali lagi ke mas nya, yang terbaik dan berkah untuk kita masing-masing...aamiin hehe.

      Delete
  4. Menikah itu membuat kita berlatih jauh lebih sabar. Setiap saat berinteraksi dengan kondisi apapun. Kesalahan kecil pasti nantinya ada, yang penting bagaimana kalian bisa melewat semua dengan baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali pak. Kemarin-kemarin bersabar kepada orangtua, saudara, mengenai pendidikan, hidup saya sendiri. Sangat berbeda bersabar kepada satu manusia yang dulunya orang lain, kemudian kini menjadi pasangan satu atap.

      Yang penting masih mau berkompromi dan bertoleransi.

      Delete
  5. Barakallah mba. 18 tahun lalu proses serupa juga pernah kami alami. Pertama kali bertemu justru saat melamar. ups

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih Bang Day :) semoga doa baiknya kembali lagi ke yang mendoakan hehe.

      Alhamdulillah istrinya masih sempat dilamar hehe. Saya tanpa ada prosesi lamaran, langsung akad.

      InsyaaAllaah sama-sama baik :)

      Delete
  6. Saya masih belum bisa membayangkan seseorang bisa taaruf dan baru kenalnya sedikit (karena enggak sebagaimana orang pacaran), lalu menikah secepat itu dengan orang asing. Setiap orang emang punya pilihannya masing-masing, sih. Apalagi yang berpedoman soal jodoh itu cerminan dirimu sendiri. Orang baik akan dapat yang baik pula, begitu pun sebaliknya. Tapi yang saya lihat di realitas, proses itu justru kayak membeli kucing dalam karung. Saya melihat banyak buruknya. Terus banyak yang mengatakan sudah menikah belum tentu jodohnya, karena marak kasus perceraian. Lebih-lebih yang menyalahgunakan taaruf buat poligami itu. Aduh, topik ini bakal panjang banget. Lebih baik saya setop. Mungkin ini saya aja yang enggak akan pernah bisa pakai standar taaruf itu. Ehehe. Saya harap kamu dan dia itu termasuk ke bagian yang baik-baiknya. :D Aamiin.

    Lalu, seperti yang kamu tulis dan orang-orang katakan soal unconditional love, bahwa kita enggak bisa memilih mau punya orang tua siapa dan kayak apa, juga ingin dilahirkan di negara mana. Tapi untuk urusan pasangan, kita punya hak sepenuhnya untuk memilih. Kita pun punya standarnya sendiri. Mungkin karena itulah ada beberapa orang, termasuk saya, yang dalam urusan menikah atau memilih pasangan hidup ini betul-betul butuh mikir banget, serta banyak pertimbangannya. Wqwq.

    Seenggaknya, dari kisahmu yang berani menentukan pilihan menikah itu bikin kecemasan saya lumayan berkurang. Agar saat memfilter seseorang buat jadi pacar, lalu lanjut ke jenjang berikutnya ini enggak perlu terlalu ketat. Mending saya lebih fokus perbaikin diri sendirinya. Hahaha.

    Terakhir, makasih ya buat ceritanya, Zah. Semoga kecanggungan bersama Rumput itu semakin cair, nyaman, dan membahagiakan. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, terimakasih doa baiknya. Iya saya sangat sadar mengenai hal itu. Bahkan dalam proses saya sendiri, bisa dibilang beli kucing dalam karung. Mungkin ini bisa saya ceritakan kapan-kapan. Bahkan sebenarnya proses taaruf ga "setiba-tiba" itu. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui yang melibatkan banyak pihak keluarga dan orang daripada semerta-merta dua individu tersebut.

      Saya juga sangat (merasa) paham kekhawatiran atau kesangsian orang-orang terhadap pernikahan lewat jalan taaruf ini.

      Tapi akhirnya kembali lagi, awal pernikahan (ntah dimulai dgn taaruf atau pacaran) tidak menjamin bgmn pernikahan itu berjalan hingga akhirnya. Perceraian bisa terjadi kpd org yg awalnya pacaran/taaruf. Yg paling penting itu prosesnya.

      Pacaran atau taaruf.....tidak untuk semua orang.

      Hey saya juga hehe. Memilih seseorang untuk dijadikan teman seumur hidup, teman tidur, makan, meraih masa depan, berjuang bersama, dll. Itu sangat ga mudah. Bikin pusing kepala. Saya orangnya over thinking. Dan kalo diturutin, mgkn ga bakal nikah. Karena.........bagaimanapun tdk ada yang sempurna, pun dgn keadaan. Ga akan ada satu kondisi yang 100% bulat sesuai dgn keinginan, pasti ada saja sedikit celah. Akhirnya mau gimana-gimana ya bersyukur atas apa yg ada.

      Benarr sekali huhu. Sok iya memfilter, kayak diri sendiri udah yang paling oke wkwk.

      Sama-sama, terimakasih juga sudah membaca :) semoga ada yang bisa diambil baiknya atau dijadikan pelajaran.

      Delete
  7. Meskipun baru lima bulan, setidaknya lebih berpengalaman dibanding kami--saya dan pembaca lain yang belum menikah, dalam urusan rumah tangga, Za. Saya jadi punya cerita yang berbeda lagi tentang pernikahan dari kalian berdua. Jadi tahu gimana rasanya harus hidup satu atap bersama orang yang cuma kenal lewat blog, sosial media, dan berakhir dengan proses taarufan.

    Oiya,itu proses taarufannya berapa lama? Penasaran saya. Hehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya benar juga ya.

      Bila berminat bisa dicoba sendiri. Rasakan dengan perasaan sendiri, it was amazing to be honest hehe.

      Jika dihitung sejak saya kami bertukar CV hingga menikah sekitar lima bulan. Kapan-kapan diceritakan hehe.

      Delete
  8. Loh, sudah menikah? Waaah selamat ya. Dan ga jauh-jauh dari dunia blog juga jodohnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh, iya hehe.

      Terimakasih banyak :)

      Smeoga kebahagiaan dan keberkahan selalu menyertai kita ^^

      Jauh banget aslinya, timur ke barat wkwk.

      Delete
  9. Btw mbk bogor mana ya? Saya ciapus tinggal bersama suami di boarding school

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya Dramaga kak, deket banget sama IPB hehehe.

      Waah, sebelum di Dramaga saya di Ciapus tuh, di Kabandungan hehe.

      Delete
  10. Wahhh selamat ya mbakkk...

    Semoga jadi pasangan yang langgeng. Punya momongan yang lucu.

    Lah gw, udah tinggal dikit lagi kepala 3 belom nikah-nikah juga, hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, terimakasih.

      Aaamiin, semoga anaknya datang di waktu yang tepat hehe.

      InsyaaAllaah semoga bahagia hehe.

      Delete
  11. woaaa...ketemunya unik juga ya dari kenal sesama blogger. Keren! Semoga pernikahannya bahagia selalu dan dikaruniai anak yang soleh dan berbakti ya!!

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya.

Bila berkenan sila meninggalkan komentar, supaya; 1) saya bisa tahu kamu, kita berkenalan, saya mampir ke blog kamu, kita menjadi teman! 2) beritahu saya apabila ada kritik dan saran.

Sekali lagi, terimakasih banyak :)

Instagram