Perjaka Miskin atau Duda Kaya?

zahrahnida

Suatu siang selepas rapat mengenai satu proyek dengan teman-teman Rumah Beruang Production House (kala itu, ketika belum bubar). Anno, bagian pemasaran bertanya kepada kami-kami, “gawe sing wedok, jaka kere opo duda soge? Gawe sing lanang, randa ayu opo perawan elek?” Artinya, kalian perempuan pilih perjaka miskin atau duda kaya? Yang laki-laki, janda cantik atau perawan jelek?

Kami heboh oleh pertanyaan Anno, memang begitu sih kelakuannya (dan ucapan-ucapannya). Suka nyeleneh dan bikin orang triggered. Dia tertawa geli memandang kami satu-persatu yang (mungkin) terlihat shock, nodong jawaban.

Karena sebenarnya kejadian ini sudah lama, aku lupa apa jawaban teman-teman yang lain. Jadi, aku hanya akan menuliskan pendapatku. Dan karena aku perempuan, pertanyaannya adalah yang;

sontoloyo-font

Sudah jelas aku pilih PERJAKA KAYA lah. Gimana sih.

Tapi kalau begitu, selesai sudah. Siapa yang gak mau coba? Tapi bukan itu maksud dari brainstorming ini. Perjaka+kaya, memang benar-benar ada di dunia ini. Tapi nyatanya tidak setiap perjaka sudah kaya atau mapan kan? Sama saja dengan duda. Ada yang kaya, pun miskin. Dunia ini adil kok kalau mau dibikin adil, kadang hati kita saja yang gak mau tentram, hmm. Atau mau dibikin gak adil juga bisa, buang rasa syukur.

Kembali ke topik, hanya ada dua pilihan. Kamu yang mana? Apa alasanmu?

Kalau aku sih yang perjaka miskin. Trus kalau pilih duda kaya salah immoral? Apaan sih. Ya enggaklah, itu kan preferensi masing-masing orang.

Alasannya, aku ingin kita bersama-sama masuk–merasakan sebuah kehidupan baru berlabel pernikahan untuk pertama kalinya. Sehingga apapun yang terjadi kedepannya, kami sama-sama benar-benar untuk pertama kalinya. Segala kegiatan suami istri, obrolan suami istri, merancang masa depan suami istri, semuanya ala suami istri untuk pertama kalinya bagi kami berdua.

Ewh, banyak pertama kalinya.

Iya, karena aku seegois itu (mungkin?) atau sengotot itu (mungkin?) atau secemburu itu (mungkin?) menginginkan keharusan kesamaan merasakan butterfly effect sebuah hubungan.

Yang namanya duda, semuda apa pun usianya adalah seorang lelaki yang sudah pernah menikah lalu berpisah dengan istrinya karena berbagai sebab. Poinnya, sudah pernah menikah. Dia sudah pernah merasakan pernikahan–ijab kabul, di pelaminan bersama seorang perempuan, bersama seorang perempuan sebagai suami istri, melakukan/ngobrol ala suami istri.

Sedangkan perjaka,ㅡya namanya perjaka adalah seorang lelaki yang belum pernah menikah sebelumnya. Poinnya, belum ada pengalaman.

Sebentar–mungkin akan ada pernyataan-pernyataan yang muncul seperti ya kan kita gatau duda nya itu karena apa, udah ngapain aja. Trus yang perjaka juga, kan gatau dia udah pernah ngapain aja. oke, berhenti sampai di duda=pernah menikah, perjaka=belum pernah menikah. Itu aja deh standarnya.

Nah selanjutnya adalah masalah miskin atau kaya.


zahrahnida

Foto diambil saat berhenti menepi di tengah-tengah perjalanan menuju Malang, somewhere nowhere.

Ih gapapa lah duda, yang penting dia kaya. Jaman sekarang tuh ya, omong kosong kalau gapake duit, emangnya mau makan cinta? Cinta rasa apa sih? Berapa kadar kalori dan nutrisinya?

Beginiㅡwarning sekilas, ini pendapat pribadi. Setuju atau nggak setuju silakan, pendapatmu itu aku hargai, jadi kita saling menghargai ya.

Aku berasal dari keluarga yang alhamdulillah berkecukupanㅡuntuk sekarang ketika aku sudah besar begini. Dulu waktu kecil, kami hidup pas-pasan meskipun ya cukup sih. Sebagai anak pertama, aku tahu betul dan menjadi saksi hidup lika-liku ekonomi keluargaku sampai sekarang.

Aku mendapati keluargaku benar-benar berjuang dari awal. Sempat pindah beberapa kontrakan, numpang sama orangtua, tinggal di rumah dinas kenalan nenek, sampai akhirnya alhamdulillah sekarang malah punya kontrakan. Hidup berubah, alhamdulillah menjadi lebih baik.

Dan sebagai orang-orang paling dekat denganku, akhirnya aku menjadikan proses perjalanan kehidupan pernikahan abi umik sebagai contoh ‘membangun keluarga’. Aku berkaca pada mereka. Bagaimana doa, ibadah, usaha, kerja keras, juga berbagai faktor lain dapat mengubah suatu kondisi. 

Dan aku merasa, mengapa harus risau bila nanti aku harus menjalani fase itu? Yang namanya menginginkan hidup enak dan nyaman PASTI butuh usaha dan doa kan. Ada yang berkata aku maunya menikah kalau sudah tersedia semuanya, rumah sendiri, kendaraan lengkap, asuransi terjamin, dll dll. Ohya silakan, itu bagus. Ya......silakan..........

Aku juga mau lah, tapi bila sebelum semua keadaan itu terpenuhi dan jodoh telah datang apakah harus ditolak? Mungkin ada yang mengatakan ya. Well, choice! Aku sih lebih memilih kita harus berkomitmen untuk sama-sama berjuang. Weits, ini bakal jadi bahan tulisan di judul lain haha. Tentang, memulai dari nol atau membuka lembaran baru hehehe.

Iya sih berjuang, tapi kan akhir perjuangan tiap orang beda-beda. Alhamdulillah orangtuamu berhasil. Tapi nanti kamu gimana? Emang ada jaminan?

Ada! Aku punya Allaah :D saya percaya betapa adilnya Allaah membagi rizki dengan murah hati kepada setiap hamba-Nya. Feeling not enough? Sometimes it's about us.

Justru entah kenapa aku ada sedikit kekhawatiran bila semerta-merta berada di zona yang nyaman dan aman. Enak sih, tapi kan wallahua’lam terhadapa kondisi situasi kedepannya. Saya hanya menyiapkan, menempa diri dari segala sisi untuk berbagai kemungkinan. Supaya gak kaget dan santai plus sabar ikhlas bila ada apa-apa, naudzubillahi min dzaalik

Woo, ini semua akan menjadi proses yang panjang. Saya banyak menyaksikan kejadian jatuh bangunnya seseorang atau keluarga dari segi ekonomi dan keharmonisan. Ada yang berakhir indah, ada yang memang harus mengakhiri dengan legawa (atau tidak, hmm).

Balik lagi ke pertanyaan awal, perjaka miskin atau duda kaya jodoh mah siapa yang tahu. Tapi kita bisa berdoa, dan berusaha.

42 comments:

  1. Ah.. Perempuan dan laki-laki kadang suka beda pemahaman soal ini. Aku sih juga sama, juga pengen perjaka kaya HAHAHA. Tapi kembali lagi ke point yang kamu jabarkan diatas, wallahu'alam nggak ada tahu ke depannya akan seperti apa.

    Saya pribadi sih akan terus berusaha, berdoa dan memantaskan diri supaya jodoh saya nanti nggak menyesal dipertemukan dengan perempuan macam saya hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan di antara masing-masing perempuan atau laki-laki pun sangat besar kemungkinan untuk berbeda pendapat pula. Baliknya ke; tiap individu sukanya gimana deh wkwkw.
      Betul sekali!

      Aku ga bis alebih setuju dengan; terus memantaskan diri. Datangnya gatau kapan. Selama menunggu, berbuat baik yang banyak aja. InsyaaAlllah dikasih yang sepadan :D

      Delete
  2. Wah menarik sekali sih, tapi sebelumnya itu fotonya keren banget sih. Itu foto pake hape bukan sih? Jadi penasaran hmmmmmm..

    Menarik banget, temen saya juga pernah bilang, cari jodoh itu yang bisa diajak berjuang apapun keadaannya. Bukan berarti cowok itu pengen ngajak susah, bukan. Kalo pun sudah senang jangan sampai lupa diri. Karena tujuan menikahnya itu ibadah kepada Allah.

    Tapi di zaman sekarang, ya bener sih realistis, tapi realistisnya itu agak gimana gitu, terus mungkin udah cocok sama pasangan kita, tapi ortunya yang kadang aneh-aneh.

    Tapi teuinglah hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Foto yang pertama, ambil dari Canva (for the win!). Yang kedua, iya dari hape aja. Ribet lah kalo pake kamera yang kamera huhu.

      Yaa begitu. Mungkin kata 'berjuang' dekat dengan kaat 'susah' sehingga banyak yang mengartikan; berjuang=susah. Lahiya berjuang memang susah, awalnya. Namanya memulai kan ga semua langsung lancar karena pernikahan itu semacam 'babat alas' atau buka lahan baru. Kita ga tahu sampai kapan area itu bakal tersbersihkan sampai sempurna. Tapi pastinya bakal ada aja gulma (masalah) yang tumbuh.

      Tujuan menikah=ibadah kepada Allaah, tidak bisa tidak lebih setuju (y).

      Karena menikah ga cuma dua orang tapi dua keluarga huhu. Hehe.

      Delete
  3. assalamualaikum mbak zahrah lama tak main ke sini

    wah ini kalau beberapa rekan perempuan saya suka bergurau malah bilang begini
    "cari duda kaya yang sakit-sakitan dan udah tua biar besoknya meninggal dapet warisan deh"
    waduh.....

    ini memang masalah preferensi
    namun namanya kehidupan rumah tangga itu kayak mekanisme reaksi
    bener banget gabisa lihat reaktan dan produk
    gabisa liat awal dan akhir saja
    proses itu penting banget dan harus ada energi yang menjalankannya'
    apalagi kalau bukan doa usaha ikhlas dan tawakkal

    salam...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumussalam mas Ikrom, selamat datang kembali hehe.

      Ga cuma rekan-rekan mas Ikrom, kelakar itu kayanya udah mendunia deh.
      Kayanya emang enak, nikah sama duda tua kaya raya, trus sebentar ditinggal mati dengan kekayaan berlimpah. Tapi yakin deh kalau di dunia nyata ga sesederhana dan sebahagia itu. Namanya orang nikah mah ya mau berlama-lama sama pasangannya.

      Tidak bisa lebih setuju.
      Pernikahan=proses tiada akhir.
      Terus menerus naik turun diterpa kebahagiaan dan kesedihan.

      Delete
  4. Setelah baca salah satu paragraf disini (bukan berarti saya cuma baca satu paragraf lho ya, tak baca semua dari atas sampai bawah kok xD) terus kepikiran : bener juga, ya, misal menikah dg seorang yang "pernah" menikah, takutnya dia punya kecenderungan buat mbanding-mbandingin mantan istri/suaminya dg diri kita (yang jadi pasangan barunya). Udah gitu doang *komentar ra bermutu :o

    Rumah beruang bubar? Saya sempet ngepo portofolionya di instagram, bagus-bagus lho. Kenapa enggak dilanjut, Za?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju juga mas, bisa aja dia ngebanding-bandingin ama mantannya. Duh... Nyesek.

      Delete
    2. Meskipun ga terucap, saya yakinnya sih pasti timbul gitu dari dalam hatinya membanding-bandingkan. Jangankan seperti itu, bahkan bisa juga (misalnya) suami membandingkan istri dengan ibunya, atau si istri membandingkan suami dengan ayahnya.

      Saya juga ada kenal dekat seseorang yang mebandingkannya dengan mantan saat pacaran, hmm sedih tau huhu.

      Iya sedih banget Rumah Beruang macem The Avengers: End Game :" yaa gimana karena para super hero cewenya hengkang semua (saya dan Annida), trus manajemen yang cowonya juga kurang koordinasi bla bla :(

      Delete
    3. Rudi Chandra: siapa sih yang mau dibandig-bandingin? Tida ada :(

      Delete
  5. yang penting harus sekufu hehehe
    ngajak berantem kalau pilihannya cuma perjaka miskin atau duda kaya
    menikah bukan undian, pasti banyak banget aspek yg dipikirin sebelum mutusin itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan sekufu itu juga belum bisa dipastikan semua cabangnya sama, hmmm.
      Wkwkwkwkw yaa, ini mah jawaban saya apa adanya dari pertanyaan si Anno wkwkw.

      Betul, karena menikah itu.......(essay ribuan halaman) hehehe.

      Delete
    2. itulah... apalagi udah suami istri pasti banyak keributan karena beda karakter dan beda sudut pandang untuk masalah yang sama. tapi ya namanya juga proses. anyway selamat atas pernikahannya ya Zahrah!
      Barakallahu Laka wa Barakaalaika wa Jamaa Bainakima fii Khair

      Delete
    3. I know it I feel it I face it! Lol, hmm ya Allah beri aku kekuatan.
      Siapa sih bilang nikah itu enak habis itu dikasih titik? Masih ada lanjutannya (koma), nikah itu juga super pusing karena dua karakter orang dalam satu rumah dalam diikat dengan janji suci /halah/ wkwkwk.

      Terimakasih banyak kak :D

      Semoga masing-masing keluarga kita diberi kebahagiaan yang berkah oleh Allah hehe.

      Delete
  6. Hmm, yang tadinya pas perjaka miskin, ketika membangun rumah tangga tentu ada kemungkinan membaik. Selama kita tetap berusaha dan berdoa semaksimal mungkin pasti ada jalan ya, kan? Sebagaimana yang kamu ceritakan tentang proses keluargamu itu deh. Saya juga anak pertama dan seakan-akan jadi saksi gimana keluarga kami berproses. Ternyata ketika suatu hari sudah naik keadaannya, lalu tiba-tiba jatuh lagi, kami enggak akan kaget. Ehehe.

    Kalaupun emang harus milih salah satu dari dua itu, asli saya langsung pilih janda cantik. Meskipun udah ada make up yang bisa mengubah orang dari biasa aja atau jelek jadi kece banget, tapi kalau perihal fisik saya yakin termasuk sulit diubah tanpa proses yang panjang. Masa sih saya harus nungguin dia berias terus? Setahu saya berdandan tuh memakan waktu lama.

    Mending yang emang udah cantik dari sananya gitu. Seandainya janda cantik itu sifatnya lebih buruk dari yang perawan jelek, pasti dia juga bisa memperbaiki diri akan perilakunya. Ya, sam-sama jadi lebih baik gitu. Kalau soal pengalaman, mungkin emang seru kayak opinimu yang bisa belajar bareng itu. Tapi kalaupun dia udah berpengalaman, apakah nilainya udah 10? Barangkali baru 6 atau 7. Kan masih bisa berproses bareng. Haha.

    Sayangnya, kenyataan bakal jauh lebih sulit dari sekadar menjawab atau menentukan pilihan sejenis ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tepat seperti preferensi tiga teman laki-laki saya yang lain. Well, preferensi! Tidak ada yang salah dari hal tersebut.

      Wah kalau masalah sifat, dari yang banyak saya baca, justru itu yang sangat sulit untuk diubah. Ibaratnya sifat bawaannya halusss banget, mau disakitin kaya apa juga teteup ga bisa marah.

      Wallahualam bisshawwab, hehe.

      Delete
  7. Ini juga pendapat saya, boleh setuju atau tidak. Dunia ini tidak adil, tapi justru ketidakadilannya itu yang menciptakan keseimbangan.

    Soal duda-perjaka miskin-kaya, itu cuma soal preferensi. Tidak penting untuk didebat, haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentu, silakan berpendapat karena juga tidak akan mengurangi nominal di rekening saya heheh. Dunia adil kalau dirasa adil, pun sebaliknya. Seenak nyimpulinnya gimana lah.

      Preferensi yang dibawa ke doa, good. Yeap.

      Delete
  8. hehe tergantung menanggapinya :D kalau duda udah dluan hidup di dunia jadi otomatis sudah dluan mencari rejekinya. kalau perjaka ya masih baru hehe

    ReplyDelete
  9. "janda cantik atau perawan jelek?"

    Saya lbih memilih yang mau sama saya wkwk. Soalnya klo dsuruh milih tapi dia ngga mau sama saya mah percuma juga. Mnding cari yang mau aja dulu. Berangkat dari perbaiki diri sendiri. Sperti kata kamu dbagian akhir, jodoh mah ngga ada yang tau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha, LOL, ini nih jawaban yang super bener. Yang mau sama saya dan saya mau sama dia. Kayak apapun bentukannya di mata orang lain, kalau berdua sama-sama sreg, why not lanjut.

      "perbaiki diri sendiri", hits me hard. Can't agree more :D

      Delete
  10. tapi soal jodoh ini beneran ajaib lho. waktu masih single gamau yang begini begitu. begitu jodohnya datang, itu bisa banget kemakan omongan sendiri. anehnya, bisa mudah bilang mau.

    banyak sih yang kejadian begini. aku salah satunya. wkwkwk..

    jadiiii... tiati lho yaa.. hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahahaha, hadeuh toss dulu.
      Tidak hanya apa yang saya butuhkan, tapi saya juga dapat apa yang saya inginkan. Tapi balik lagi, kita adalah manusia yang sudah pasti punya kekurangan. Saya punya, dia juga punya. And I'm still trying hard how to make it works, lol.

      Huhuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu, iya udah hati-hati.

      Delete
  11. Aku juga sama sih. Pengennya yang bisa berjuang sama2. Alhamdulillah aku sekarang sdh mandiri. Pengennya ya ketemu jodoh yang sama2 mandiri juga. Jadi titik nol nya sama hehe. Setelah itu kita bisa berjuang bareng buat lebih baik lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, senangnya kalau ada dengar cerita perempuan yang mandiri.
      Aku juga pingin se mandiri kakak, jadi sebagai individu itu bisa bermanfaat+berdayaguna untuk dirinya sendiri dan orang di sekitarnya :D hebatt!

      Aamiin, semoga bertemu dengan orang yang tepat di waktu yang tepat ya kak :)

      Delete
  12. "mau dibikin gak adil juga bisa, buang rasa syukur"
    aih quote yang dalem banget.. keren mba

    ReplyDelete
  13. Saya dari dulu punya pandangan terhadap pernikahan yang tak akan sama hasilnya pada setiap orang. Maksudnya, misal ada pasangan yg menikah dengan faktor tampan, kaya, agamis, dll sebagainya, lalu hidupnya bagus terus, maka saat kita mencari pasangan yang sama persis kriterianya, haislnya gak akan sama. belum tentu bagus. karena manusia itu berbeda, walo berasal dari ibu dan bapak yg sama sekali pun, lalu orang berbeda pikiran itu akan bersama dengan orang lainnya yg berbeda juga, dari situ sudah jelas bahwa pencapaian dan pengalaman orang menikah itu pasti semuanya berbeda.

    dari itu, perkara memilih jodoh, itu saya nggak pernah mau ikutan ngasi kriteria dalam media publik harus begini atau harus yg begitu. hal tersebut hanya akan jadi debat yg gak berguna gak berujung. Semuanya tergantung pribadi masing2 saja. maunya seperti apa. mau yg kaya, mau yang muda, mau yang naik vespa, penikmat senja, bebas. orang lain hanya bisa membantu kalo dia tau orang yg dipilih ternyata penjahat, dan hal2 lain yg mudah dilihat saja sebagai saling menjaga.

    Kalo berdasarkan hal kemauan diri sendiri, saya juga sepakat untuk mengalami berbagai hal pertama dengan pasangan nanti. perkara kaya atau miskin, itu hanya status sosial. Yang jelas, pastikan kalo kita sendiri juga sadar dan mampu bagaimana membayar ini dan itu, misal ada ketakutan tidak mampu bayar keperluan lainnya, selanjutnya bisa dikomunikasikan bersama bagaimana baiknya. Toh itu kan tujuannya hidup bersama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali.

      Karena setiap orang membawa faktor-faktor khas, bahkan antar manusia dalam sebuah keluarga.

      Lebih-lebih lagi, semoga bagaimana pun awal pernikahannya, bahagia+terberkahi+langgeng sampai memang harus berpisah.

      Delete
  14. (((berkomitmen untuk sama-sama berjuang))) : Justru inilah yang jadi kunci dalam rumah tangga. Berjuang bersama untuk segala hal, ya ibadah... ya sikap sehar-hari...ya soal keuangan...

    btw, bagus tulisannya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kunci yang banyak orang tahu tapi sering dilupakan, diabaikan, hehe.

      Semua aspek ya kak :)

      Terimakasih kak ^_^

      Delete
  15. Kata teman, perjaka jujur udah gak ada mba. Udah pada nikah semua :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, semoga yang saya dapatkan termasuk salah satunya hehe.

      Delete
  16. uwaduh kok galau aku ya milihnya
    padahal cuma pertanyaan iseng
    aku gak bisa njawab zah, haha

    yang jelas... aku tuh di kelas adalah bagian yang tukang tanya2 kayak si anno. tukang nodong pertanyaan yang nyeleneh, haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwkwkw ya begitulah.
      Ya mungkin ini bukan pertanyaan apa-apa.
      Tapi otakku yang suka kepikiran akhirnya menjadikan ini sebagai sebuah tulisan utuh di blog wkwkwk.

      Delete
  17. pertanyaan yang sulit mba wkwkwkwk menjebak sekali ini tapi kupun seperti mba kalau dihadapkan pilihan ini :p beda mungkin pemahamannya seperti Zaskia Adya Mecca atau Laudya wkwk Kok bawa2 mereka :p

    btw salam kenal aku jg IHB sudah kufollow blognya mba ditunggu folbeknya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, yaaa setiap orang punya preferensinya masing-masing.
      Dihargai saja, betul kan? :)

      Salam kenal mbak Herva ^^
      Wah, tapi saya tidak menemukan gadget untuk pengikut di blog nya mbak Herva :(

      Delete
  18. Did I already celebrate on your wedding ?
    I hope I already said that.

    Selamaat ya zahra dan Khairul (Bunga dan Rumput). Barakallahu laka, wa baraka ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khayr.

    Well yes, I agree. Nggak semua perjaka ketika sudah ingin menikah sudah dalam tahap KAYA. Namun bukan berarti pula kita hanya Mau karena kata cinta, musti tanya dulu apa rencana dia kedepan.. supaya punya pandangan bersama. Supaya bisa berjuang bersama.

    Kalau kamu berkaca kepada Umi dan Abi kamu yang pernah melewati masa susah dan kemudian cukup, aku pernah mendengar cerita dari sisi Ayahku.

    Ayah pernah ditolak mentah mentah sama keluarga calonnya, karena Ayah waktu itu belum mapan. Well kemudian cari jodoh lain, alhamdulillah ketemulah ibuku. hahaha kalau denger cerita ini aku sedikit ketawa lho tapi ya kalau ayah nggak ditolak sama calonnya yang dulu, nggak bakal ada aku didunia.

    Then, Ibuku ini keluarga biasa saja, dan waktu Ayah melamar pun.. syaratnya tidak aneh aneh (tidak harus punya mobil, tidak harus punya rumah, hal hal tersebut bisa dicari bersama).

    Thats why, ayah sama anak perempuannya selalu ikhlas aja kalau udah ada yang ngelamar. Tak pernah sekalipun pertanyaan beliau kepada calon menantunya tentang materi. Karena beliau percaya, ketika laki laki sudah meminta anak perempuannya Ayah, maka dia sudah matang betul untuk berjuang dan menghidupi anak perempuannya kelak (berkaca pada dirinya sendiri juga waktu lajang, jangan sekali kali memberatkan mempelai laki laki dengan syarat yang materil)

    Yakk intinya..
    Kalau dapat perjaka yang Kaya, Alhamdulillah. Tapi meskipun begitu, pesan Ayahku "Tetap kamu harus merasakan perjuangan awal menikah"

    Kok kayaknya komentar aku panjang sekali?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudaah :) kakak sudah kirim pesan ke akuu.
      Tapi sekali lagi, terimakasih banyak. Semoga doa baiknya balik ke kakak lagi.
      Dan Allah juga kasih jalan terbaik+terindah untuk masing-masing kita ^^

      Dan.....lihat sekarang keluarga kakak seperti apa. Kakak seperti apa.
      Kita gak pernah tau kedepannya sebelum dicoba, ya kan kak?

      Masalah rizki, atau jalan pernikahan ke depan, ga semerta-merta ditentukan oleh awalnya bagaimana.
      Iya awal memengaruhi, tapi hidup itu terus berproses.
      Nah proses inilah yang akan mengantarkan pada akhir.

      Engga papa panjang, justru aku bacanya menikmati. Aku bisa dapat kisah hidup dari orang lain yang bsia diambil hikmahnya. Supaya ga jadi orang yang subjektif hehe.

      Delete
  19. Alhamdulillah saya dapatnya perjaka yang sedang berjuang hahaha.

    Tapi kalau mau masuk tulisan ini dan menjawab, pilih duda kaya atau perjaka miskin.

    Sudah pasti duda kaya lah, muahahahahaha *oppssss.. wanita matreee :D

    Tapiiii... ada tapinya.

    Duda yang berpisah karena istrinya meninggal tentunya.

    Dengan menikah dengan duda kaya, saya bisa sepenuh hati menjalankan tugas sebagai ibu dan istri yang baik.
    Karena tugas saya cuman fokus untuk itu, nggak bingung mikirin duit juga.
    Itu urusan suami.

    Seorang ibu dan istri yang sehat lahir batin itu dimulai dari sehat jiwa raga dulu, nggak kecapekan karena mengerjakan hal-hal yang bahkan bukan tugasnya, seperti pusing ikutan cari uang, kecuali memang hobi dan memang mampu melakukan hal tersebut tanpa mengorbankan waktu bersama anak serta melupakan tugas melayani suami.

    Tapi itu saya sih, seorang ibu yang berpikir secara realistis, mungkin wanita lain punya pikiran lain dari saya :)

    ReplyDelete
  20. saya setujuuuuu, rejeki bisa dicari bersama asalkan kita selalu bersyukur dengan apa yang ada :D

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya.

Bila berkenan sila meninggalkan komentar, supaya; 1) saya bisa tahu kamu, kita berkenalan, saya mampir ke blog kamu, kita menjadi teman! 2) beritahu saya apabila ada kritik dan saran.

Sekali lagi, terimakasih banyak :)

Instagram