Sekitar Dua Bulan Kurang Sebelumnya dari Pasar Grosir Surabaya

Pasar Grosir Surabaya

Sekitar dua bulan kurang sebelumnya, umik mengajak saya ke Pasar Grosir Surabaya untuk mencari bunga-bungaan palsu. Dipikir, lebih enak milihnya daripada beli daring karena bisa dipegang-pegang dan barangnya tepat di depan mata. Tidak usah menebak-nebak ukuran asli maupun warna karena alasan faktor pencahayaan. Dan untuk membantu bawa barang sekiranya yang dibeli banyak, Zahira pun turut menemani. Zahira, si anak ke dua kelas dua SMA (pada saat itu) yang sekolahnya sedang libur.

Dari rumah nenek yang berada di pinggir jalan raya kami naik angkot dan turun di terminal Sidoarjo. Dari sana kami masuk ke dalam bis jurusan Surabaya, menunggu penumpang penuh hingga pak kondektur dan sopir siap melajukan bis.

Saya duduk di tengah, di antara umik dan Zahira. Kadang umik membuka hape, mengecek grup WA dan beberapa pesan masuk urusan pekerjaan. Sedang Zahira santai dengan headset sambil membaca Wattpad. Saya? Saya mendiamkan mulut tapi otakku terus berpikir tentang ini-itu. Menikmati kesibukan kami masing-masing diselingi deru kendaraan yang sama-sama meluncur di jalan. Sesekali pengamen silih berganti melantunkan nada.

Pasar Grosir Surabaya
Zahira bengong, dengan latar belakang mobil-mobil boks yang berhenti karena ada kereta api lewat.

Sampai di PGS, petualangan dimulai. Berkeliling melangkahkan kaki mengikuti umik dengan semangat. Mata menelusuri berbagai objek yang tersedia. Hmmm yaa, ini adalah kunjungan pertama saya. Otak bisnis saya meronta, wah banyak yang bisa dijual lagi nih. Haha.

Dari satu toko bunga plastik ke toko bunga plastik yang lain, bertanya jenis bunga dan harga. Agak lama sedikit ngobrol dengan pramuniaganya, sambil diam-diam membandingkan harga dengan toko sebelumnya. Hingga sampailah di sebuah toko yang memiliki banyak jenis bunga dengan harga paling murah. 

Beberapa jam disitu hingga azan asar berkumandang. Kami salat di ceruk sempit dibalik toko parfum. Sayangnya selama kami salat, bukan bau parfum yang tercium melainkan kompilasi debu lembab entah bekas kaki siapa saja di karpet itu. Tetap, kami berusaha meraih kekhusyukan masing-masing.

Selesai salat kami ke luar PGS, berdiri menunggu bis menuju Sidoarjo datang. Dengan satu kantong plastik hitam besar dan kardus.

Mulai dari sini, saya punya waktu luang lebih banyak untuk memperhatikan angin yang menghembus dedaunan dan angin yang berhembus dari hidung-hidung manusia.

Pasar Grosir Surabaya

Saya tidak cukup berani untuk bertanya kepada beliau apa cita-citanya saat masih duduk di bangku SD. Apakah menjadi pilot, dokter, polisi, guru, atau.......tukang becak? Kureka-reka sendiri apa beliau tahu akan menjadi tukang becak sebelumnya? Saya yakin setiap manusia punya cerita hebat dalam hidupnya, termasuk beliau dibalik rambut ikalnya. Bila saja saat itu saya memulai pembicaraan, mungkin narasi untuk foto di atas tidak akan berhenti sampai titik di sini.

Pasar Grosir Surabaya

Mungkin sekitar empat puluh menit dari awal kami berdiri sampai akhirnya bis yang kami tunggu datang. Senang bukan main karena tidak ada patokan jadwal seperti kereta api. Saat itu juga bis berhenti karena ada kereta lewat. Saya yakin ini adalah pertanda bahwa kedepannya saya akan sering naik kereta api. Tak cuma bis yang saya tumpangi, tapi juga becak, sepeda motor, dan mobil berhenti tepat di belakang palang membiarkan kereta melaju kencang.

Saya berpikir, betapa enaknya kereta api yang selalu didahulukan sampai kendaraan lain harus mengalah dan berhenti membiarkannya lewat. Tpi dipikir-pikir lagi, dia tidak bisa sembarangan seperti angkot yang kalau diteriakin "kiri!" bisa berhenti saat itu juga. Kesimpulannya: jangan iri dengan yang lain. 

Pasar Grosir Surabaya

Jika memang naik becak, ya syukuri tidak secepat sepeda motor. Banyak-banyak berterimakasih kepada pengayuhnya yang membuat tubuh berat kita bisa melaju di jalanan. Atau sepeda motor yang gesit menyalip kesana kemari. Ah sepeda motor, betapa mudahnya proses kredit hingga siapa pun bisa membawa pulang satu buah sepeda motor baru saat itu juga hanya bermodal KTP. Makin banyaklah kendaraan pribadi di jalanan....sedang pembangunan infrastruktur tidak dapat mengimbangi.

Pasar Grosir Surabaya

Masih ingat dulu sekali waktu kecil saat masih sering bolak-balik Jawa-Sulawesi karena pekerjaan orangtua, abi selalu melarang aku duduk dekat pintu karena berbahaya. Tahu saja anaknya ini akan berulah. Padahal, coba bayangkan asiknya angin membelai rambut. Alhamdulillah Allah beri umur hingga lebih dari tujuh belas tahun, sampai pada usia dianggap dewasa untuk duduk di dekat pintu.

Iya kan? Duduk tidak di kursi yang disediakan itu asik pokoknya.

Pasar Grosir Surabaya

Aku menyebut semua makanan yang di jual di pinggir jalan sebagai bakteri. Ya karena kita tidak tahu bagaimana kebersihan saat proses makanan tersebut dibuat hingga disajikan. Apalagi jalanan adalah tempat foya-foya segala debu, asam knalpot, virus bersin, dan lain-lain. Meski begitu buat saya 'makanan jalanan' tidak termarjinalkan malah jadi pilihan. Bakteri bukan masalah, karena pikir saya  bisa membantu pencernaan lebih maksimal.

Pasar Grosir Surabaya

Apakah alas kaki mencerminkan kepribadian seseorang? Ya dan tidak. Ada banyak alasan. Bisa jadi alasan kenyamanan sehingga merk bukan masalah, ada yang tuntutan pekerjaan sehingga harus memilih 'gaya'. Ada yang.....mana paling murah itu dibeli.

Kalau saya, mana yang nyaman dan setidaknya terlihat netral untuk digunakan sehari-hari maupun acara tertentu. Harga dan merk apa saja, bukan masalah. Eh tapi satu lagi di bawah lima puluh ribu, dengan bahan plastik atau karet supaya lebih awet dan tidak basah.

Saya yakin, berbedanya satu manusia dengan manusia yang lain salah satunya karena ini, alasan-alasan memilih alas kaki.

Pasar Grosir Surabaya

Saya dan Zahira duduk dekat pintu karena kursi sudah terisi semua. Beruntung tadi ada satu penumpang yang turun sehingga umik bisa duduk nyaman di kursi. Kemudian seorang bapak tua naik setelah berpuluh meter setelahnya.

Ia mengenakan kaos polos putih dengan celana kain yang digulung ujungnya, dan peci hitam. Sandalnya merk Swallow, fotonya persis di atas foto ini. Keriput wajahnya jelas terlihat tanpa disamarkan sama sekali oleh botox. Rambutnya beruban juga menipis. Sempat mencari sesuatu dalam tasnya sehingga terbuka, aku mengintip ada banyak buku bacaan anak-anak di dalam situ. Asumsiku, beliau kulakan buku di Surabaya kemudian entah di mana akan dijual.

Bis penuh sesak kembali melaju. Kini, tak ada satu pun kursi yang tersisa sehingga beliau harus berdiri. Sepuluh menit berlalu sepertinya beliau kelelahan, beliau jongkok melepas sandal dan duduk di atasnya. Sontak membuat beberapa penumpang di belakang berseru, "sini pak duduk sini saja pak!"

Tapi beliau hanya tersenyum memperlihatkan gigi yang tak lagi lengkap jumlahnya, "mboten napa-napa, lenggah teng mriki ae."  (tidak apa-apa, duduk di sini saja)

Tak lama, beliau terlelap dengan kepala bersandar pada tas dan tangan berpegangan kuat pada besi mencegah terantuknya badan karena sopir bis suka ngerem mendadak. Hingga sejam berlalu di atas bis, saya lihat banyak penumpang yang mulai memejamkan mata.

Satu lagi cerita: coba perhatikan foto terakhir, di belakang beliau terlihat sepasang tangan wanita yang memeluk tas cokelat. Ibu tersebut membayar ongkos bis si bapak. Ceritanya, beliau pernah berjualan kopi keliling, lalu dibeli ibu tersebut. Si ibu masih mengingat kopi buatan si bapak.


Hmmm......ada banyak hal kecil yang hanya diingat oleh satu pihak sedang yang lain tidak. Tidak mengapa sebab kadang kenangan tidak hidup pada setiap pihak yang terlibat.

20 comments:

  1. Saya terkagum-kagum sama foto-fotonya kak. Keren-keren hehehe

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Terimakasih banyak kak ^^ semoga betah main dan baca baca di sini hehe

      Delete
  3. Keren foto dan ceritanya. Tapi koreksi ya mbak, maksudnya mungkin PGS (Pasar Grosir Surabaya) Hehehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah iya nih ka Uphiet, saya salah mengetik ejaannya. Terimakasih banyak :D

      Delete
  4. Tulisan terakhir bikin mewek. Betul sekali, tiap otak manusia memiliki kenangannya masing-masing. Ada yang menurut A berkesan, tapi terasa biasa menurut B. Dan disitulah seninya kehidupan. Hehe.
    Saya jadi ingin beli bunga jugaaa haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya baru sadar paragraf terakhir itu bermakna lumayan dalam setelah seorang teman mengutipnya. Karena saat saya sendiri menuliskan, tidak ada tendensi apa-apa hehe.

      Saya mengiyakan ka Falkhi ^^

      Delete
  5. good post 😊 would you like to follow each other? if the answer is yes, please follow me on my blog & i'll follow you back. https://camdandusler.blogspot.com

    ReplyDelete
  6. Udah lama banget ngga naik bis
    I can relate situasi dan pemandangannya wkwk

    Sejak ada Trans Padang yang full AC dan tertib, hilang deh pemandangan itu ckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti kapan-kapan harus coba naik bis ke Aceh terus ke Sabang. Teman saya baru dari sana katanya bagus banget kaya Lombok!

      Seandainya bis bisa secepat kereta dan kereta bisa senyaman bis tempat duduknya :' lol

      Di Jawa masih banyak yang begini bang. Mungkin harus sesekali main ke Jawa wkwkwk.

      Delete
  7. Baca tulisan beginian pada dini hari, makin pas buat berkontemplasi.

    Omong-omong soal sendal swallow, menurut saya itu bagus-bagus aja. Awet juga dipakainya. Sebagian orang juga pasti gengsi pakai itu zaman sekarang. Anehnya, punya saya entah kenapa pernah hilang di masjid. Kirain sendal begitu enggak ada yang minat lagi. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apakah ditemani oleh kokokan ayam juga?

      Dibalik modelnya yang sederhana, sandal ini merangkul banyak kalangan masyarakat. Tapi memang sepengelihatan saya, di beberapa toko mulai jarang dipajang. Lebih banyak yang modelnya 'modern'. Terlepas, saya di pihak mementingkan kenyamanan.

      Delete
  8. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  9. Ya itu sekelumit n sebagian kecil khdupan masyarakat...bersyukurlah bisa bersyukur dgn apa yg ada...
    Syukuri apa yang ada...hidup adalah anugrah ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaaa terimakasih abi sayang udah diingatkan.
      Salah satu nilai hidup yang Zahrah upayakan teruss sampe sekarang dari abii.
      Bersyukur, memanfaatkan apa yang ada/dipunya.

      Abi anugrah dalam hidupku uuuu xD

      Delete
  10. Angle dan pewarnaan fotonya keren2... seneng fotografi yah mba

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya.

Bila berkenan sila meninggalkan komentar, supaya; 1) saya bisa tahu kamu, kita berkenalan, saya mampir ke blog kamu, kita menjadi teman! 2) beritahu saya apabila ada kritik dan saran.

Sekali lagi, terimakasih banyak :)

Instagram