Bagai Jerawat di Wajah Sendiri

Untitled

Ceritanya hari itu Rumah Beruang mendapat proyek membuat video di salah satu rumah studio berbentuk joglo di Surabaya. Rumah Beruang sendiri merupakan rumah produksi yang dirintis oleh teman-teman SD. Bersama sang pemilik rumah studio, kami ngaso sejenak setelah sepagian keliling rumah untuk mengambil gambar dan video. Cerita dari masing-masing mulut bergulir. Kemudian sampai pada cerita mas Ryant, pemilik Omah Joglo.

Diceritakan, beliau dulunya adalah seorang Katolik yang kemudian berpindah ke agama Islam. Jadi beliau adalah muallaf. Perjalanannya menjadi seorang muslim mudah tidak mudah. Dengan latar belakang keluarga Katolik, sebenarnya orangtua mas Ryant membebaskan anak-anaknya untuk memeluk agama apapun yang mereka yakini. Sayangnya, kakak laki-laki mas Ryant yang terlebih dahulu memilih agama Islam menunjukkan sikapㅡyang bisa dibilangㅡkurang baik sehingga kurang diterima oleh keluarga. Hal itu membuat mas Ryant merasa was-was dan berpikir ulang untuk 'menunjukkan' keislamannya secara terang-terangan di keluarganya.

Meski begitu ketika bulan Ramadan, mas Ryant tetap berusaha menjalankan ibadah puasa selayaknya muslim yang baik. Hingga pada suatu sore, mas Ryant bersama mama dan papanya berada dalam satu mobil menuju ke suatu tempat. Seiring waktu, srengenge makin merapat ke horizon sampai sayup-sayup terdengar adzan berkumandang.

Saatnya berbuka puasa. Mas Ryant pikir, bisa nanti buka puasanya. Posisinya saat itu mas Ryant yang mengemudikan mobil. Tak disangka, papa mas Ryant yang duduk di samping kiri menyodorkan sebotol minuman teh.

"Buka puasa dulu." Mas Ryant mengaku kaget, tetapi juga bahagia disaat yang bersamaan. Karena di luar ekspektasi, papanya bisa menerima dengan baik. Mas Ryant menuturkan, papanya meihat perilaku mas Ryant menjadi semakin lebih baik ketika 'dicurigai' memeluk agama Islam. Ini adalah cerita pengalaman menjadi muallaf yang pertama kali saya dengar langsung. Dan yang membuat saya penasaran adalah........begini:

Sebagaimana kita tahu lah ya, akhir-akhir ini topik beragama menjadi sangat sensitif di kalangan masyarakat Indonesia. Baik itu dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia maya. Dan bukan hanya antar-agama namun juga aliran-dalam-satu-agama. Semakin memanas ketika dipantik isu politik. Khususnya agama Islam yang pemeluknya menjadi mayoritas. Beberapaㅡbahkan mungkin banyakㅡpihak yang memanfaatkan situasi ini untuk memenangkan dan membenarkan kelompoknya dengan cara menyebarkan isu atau menjatuhkan kelompok lain, wallahua'lam bisshawwab.


Omah Joglo Surabaya

Jujur saja, itu semua membuat Islam dimata saya menjadi koyak. Sedih dan miris. Hal inilah yang menjadi pertanyaan besar untuk mas Ryant; "dengan keadaan 'gambaran' Islam yang terombang-ambing carut marut begini, apa tanggapan mas Ryant? Kenapa malah bisa 'melihat' keindahan Islam?"

Inti jawaban mas Ryant; "ya itu kan orangnya, manusianya. Tahu sendiri lah sifat dasar manusia itu gimana, jatuh bangun dalam lubang ke khilaf an. Yang aku lihat ya Islamnya. Aku menemukan keindanhan Islam, dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam hidup membuat aku tenang, nyaman. Makanya kalau belajar itu tanya ke orang yang benar, jangan sembarangan. Salah-salah malah disalahkan bukannya dibimbing."

Wow, super sekali.

Dibonceng Annina pulang dari Omah Joglo menuju Sidoarjo kami kembali mendiskusikan 'fenomena' ini. "Nin, kok bisa gitu ya. Padahal aku ngerasa wajah Islam sedang tercoreng-moreng." Kataku.


Omah Joglo Surabaya

"Gini loh Zah, sama kayak yang kita bicarakan kemarin. Analoginya; aku ngerasa wajahku ini bermasalah karena berjerawat sampe merah-merah. Itu mengganggu buat aku. Tapi kamu bilang kan, bahwa wajahku gak mengganggu. Iya ada jerawatㅡada masalah, tapi itu bukan hal yang mengganggu bagi kamu sebagai 'orang lain'. Beda dengan aku yang punya wajah dan jerawat ini." Aku tertegun mendengar jawaban dari Annida.

Kemudian Annida menambahkan, "coba deh kamu sekarang. Aku ngerasa wajah kamu ya baik-baik aja. Tapi kamu sendiri yang bilang, 'aduh kurang mulus, beruntusan, apalah-apalah'. Ya gitu. Orang lain lihat ya gak ada masalah."

Hmm, benar juga.

Aku lihat temanku berjerawat, biasa aja.  I took it as a normal phase, it's r-e-a-l-l-y okay to have some acnes or freckles even moles on your face. You just have to get rid those problem off by washing or double-cleansing without stressㅡI mean the point is, people do not look at those stuffs on your face as a problem. Having acnes, freckles, yada yada doesn't mean that your friends are forbidden to look at your face and you can stop them for being friend with you. Maybe it's your problem but not theirs

Ah iya, mungkin seperti itu. Jadi jawaban dari penasaran itu ada pada saya. Orang lain melihat Islam indah kok. Sayanya saja yang tergiring badai gelombang opini publik.

Bagaimana menurut kalian?

32 comments:

  1. Analoginya bagus.

    Kalau yang saya lihat sekarang, banyak orang keliru. Bukan menyembah Tuhan melainkan agama. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya cukup bagus.........meski mungkin tidak terlalu tepat hehe.

      Hmmmm..............mungkin, benar--atau tidak. Mari kita saling menghargai pendapat masing-masing. Tapi saya setuju, hehe.

      Delete
  2. Jangankan yang mualaf mbak, kita yang beragama Islam juga bisa terombang-ambing jika kita tidak hati-hati dalam memilih guru belajar agama. Dengan dalih 'Ambil baiknya, buang buruknya' bukan berarti kita bebas memilih guru agama. Karena ketika kita sudah dapat memilah mana yang baik dan mana yang buruk dalam agama, sudah dipastikan kita orang yang berilmu.

    Alhamdulillah, mas Ryant nya dapat guru agama yang baik yang mengajarkan Islam yang damai dan tenang..

    Masyaallah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah justru malah saya lihatnya, yang muslim terombang-ambing. Ini yang muallaf malah seteguh baja, sungguh saya salut.

      Wah benar juga! Selama ini saya berpikiran seperti itu, 'ambil baiknya saja. Lihat apa yang dikatakan (substansi), bukan siapa yang mengatakan.'

      Tapi tidak bisa dielak bahwa 'siapa' mempengaruhi 'apa' yang dibicarakan. Tapi tetap semua itu kondisional, menurut saya. Bagaimana bijaknya masing-masing kita menghadapi fenomena ini.

      Alhamdulillah :D mari kita doakan supaya istiqomah, untuk kita juga :)

      Delete
    2. Benar mbak, karena emang kalau menurut saya, mualaf itu mempelajari islam secara sungguh-sungguh dan akhirnya dapat hidayah.. Beda sama kita, yang belajar islam dari lahir sampe sekolah, jadinya agama itu 'biasa saja', dan ujungnya tidak dapat hidayah..

      Kalau saya tetap mbak, siapa mempengaruhi apa.. Apalagi sekarang, banyak sekali ustadz yang kadang mencampuri urusan agama dengan 'logika' plus 'pendapat pribadi' sesuai hawa nafsu.. Naudzubillah..

      Semoga kita selalu istikomah untuk belajar islam sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah Sholalallahu Alaihi Wassalam ya mbak.. Hijrah mudah, istikomah yang sulit :))

      Delete
    3. Mungkin bukan tidak dapat hidayah, namun (kemungkinan) tidak merasakan nikmatnya berislam dalam keadaan sudah sadar secara emosi dan akal (ketika dewasa maksudnya, karena kita kan menerima Islam sejak kecil, sejak belum tahu apa-apa).

      Tapi berislam sejak lahir pun sesuatu yang tetap harus disyukuri :)

      Naudzubillahi min dzaalik. Semoga kita dijaga Allah dari perkataan yang tidak baik. Sayangnya--lagi-lagi, hehe. Baik itu selamanya relatif hehe.

      Ah saya super setuju! Istiqamah yang istiqamah adalah puncak hijrah.

      Delete
  3. islam itu bukan sekedar indah, tapi memuaskan jiwa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagi siapa yang mengimani dan diberi hidayah.

      Semoga kita selalu berada dalam lindungan-Nya :)

      Delete
  4. Islam itu indah dan damai, bener kata mas ryant, itu manusianya, bukan Islamnya.
    Aku berharap manusia-manusia yang bikin resah ini segera sadar, pentingnya berwawasan luas, pentingnya semakin merunduk layaknya padi yang berisi. Supaya apa? Tidak gampang menganu sesuatu. Melihat dari prespektif yang berbeda, mencoba menelaah lebih dalam dengan data yang konkrit sebelum berujar dengan dalih "KATANYA".
    Pada dasarnya apabila manusia sudah fanatik pada satu kebenaran, maka dia menutup diri dari kebenaran yang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namanya juga manusia ya kak. Dinamis, tidak statis. Hmmm fisikaaa wkwkwkkw.

      Tapi kadang gini loh. Kita menganggap mereka meresahkan, mereka menganggap kita yang meresahkan. Hayoloh xD

      Wallahua'lam :/

      Menganu is what -_- aku pernah dimarahin bilang anu huhu.

      'Katanya' menurut aku levelnya sama dengan taqlid, tidak baik.

      Jadi kesimpulannya adalah, tidak sombong untuk terus merasa diri ini adalah 'gelas kosong'. Iya?

      Delete
  5. Seneng ya bisa kenal sama orang-orang yang berpemikiran begini. Sebenarnya semua agama mengajarkan hal yang sama: hidup yang baik. Tapi pemahaman yang terpeleset membuat beberapa orang jadi serba marah dan tidak toleran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senang sekali!

      Bagaikan menemukan buku cetak yang selama ini hanya bisa dinikmati secara digital (apaan deh -_-).

      Aku setuju semua agama mengajarkan hal baik. Tapi tetap, yang benar ya Islam.

      Sumbu pendek, mudah tersulut hehehehe.

      Delete
  6. Replies
    1. Terimakasih banyak telah berkunjung, membaca, dan mengapresiasi :)

      Delete
  7. Yang saya lihat sebagian besarnya, sih, ingin menjadi Tuhan. Mereka menilai ini-itu kepada orang lain seenak jidat. Berasa mahatahu. Padahal sebaik-baik orang pun belum tentu terbebas dari dosa. Terus saya sedih sama teman-teman di sekitar yang hijrah. Saya seharusnya mah senang, ya. Anehnya, mayoritas dari mereka ini berubahnya parah banget. Dalam artian berubah ke arah bagus (menurut saya), tapi menganggap yang lainnya jelek. Sedikit-sedikit langsung bawa ayat untuk menegur. Mungkin maksudnya baik, penerapannya aja yang keliru. Ujung-ujungnya, balik lagi ke yang kalimat pertama. Mudah sekali menilai sesama.

    Hmm, mungkin itu proses awal aja kali, ya. Seperti tingkatan belajar, ketika baru-baru pasti ingin pamer ilmu. Setelah tahu lebih banyak mereka akan rendah hati, bahkan merasa tidak tahu apa-apa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah ada pandangan lain lagi dari saya nih. Iya saya juga tahu dan merasakan 'kemudahan' melontarkan ayat-ayat atau hadist untuk menghakimi perbuatan sesuatu. Ayat dan hadist nya bagus. Tapi cara penyampaian yang kurang mengindahkan situasi dna kondisi yang membuat sulit diterima.

      Satu sisi, pihak yang dinasehati.....mengelak dari kebenaran--padahal sudah tahu hukumnya. Hanya mau hidup sesuai dengan yang dia inginkan. Padahal dalam aturan 'berkeyakinan yang benar' dalam rangka memenuhi tujuan hidup, ada prinsip-prinsip yang harus tegas warnanya. Putih ya putih, hitam ya hitam. Tidak bisa abu-abu.

      Tetap ada tapinya. Yaaa yasudah.

      Ya begini ini potret kehidupan beragama di Indonesia, di lingkungan kita. Berhati-hati membawa diri bergaul dalam lingkungan. Kalau diingatkan berterimakasih, anggap saja; dia peduli dengan hidup kita (meski caranya ngga ngenakin).

      Membesarkan rasa legawa hahahahha.

      Semoga hidup kita makin terberkahi, aamiin!

      Delete
  8. merinding banget bacaya, coba kalau banyak orang yang berpikir gini. huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi otak saya ga bisa dikloning huhuhu /apaandeh -_-

      Mari bersama-sama saling menghargai :D hehehehe.

      Delete
  9. To be honest dulu juga sempat merasakan hal yang sama

    Dimana temen-temen ku sampai ikut berkoar-koar di sosmed memberikan klarifikasi, pembelaan, dan lain lain utk membuat nama islam kembali indah di sekitaran mereka (terutama sosmed). dan aku, pernah, juga melakukannya.

    Dan lalu berbagai proses hidup akhirnya menyadarkan ku bahwa islam itu agama Allah yang enggak perlu di indah-indahkan kesannya, dibagus-bagusin imej nya, di sejuk-sejukin segala ketentuannya, biar positif di mata orang termasuk yang non.

    It is what it is
    Not who judged it.

    Karena islam bukan bikinan orang-orang

    Stay open minded, zahrah
    You're doing good
    You're in the right way

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang sedang tren sekali segmen klarifikasi ini di semesta platform media sosial. Buat saya sih, terserah......silakan saja melakukan. Mungkin itulah yang bisa dia lakukan untuk 'membela' agamanya.
      Kalau saya pribadi sih, ada cara yang lebih nyaman daripada itu yang bisa saya lakukan.
      Berdakwah tidak selalu lewat jalan Matraman kan? Lewat Thamrin juga bisa xD

      Kalau mau ngebagusin, ya bagusin akhlaq kita aja. Gitu kan ya p'? Semoga Anda setuju, aamiiin.

      Thanks so much p',
      sincerely,
      yang punya blog ini,
      Zahrah 5555.

      Delete
  10. Iya, buat gw agama itu ada untuk diyakini dan dilakoni, diamalkan bukan diperdebatkan. Kalo diperdebatkan ya gitu, bikin panas. Agama itu masalah keyakinan, jadi belum tentu menurut kita baik, dimata orang lain baik juga. Jadi jangan memperdebatkan agama, tapi amalkan lah isi ajaran agama. Itu yang bikin agama jadi menentramkan hati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepanjang jalan blog ini, baru kali ini komen ga ngeselin hahahahaha.

      Setuju tidak setuju sih. Ya namanya juga hidup.

      Buat saya debat boleh-boleh aja sih asal dibarengi kebijaksanaan dan tetap jaga sopan santun.

      Mau ga debat juga boleh.

      Setentramnya hidup lah gimana xD

      Delete
  11. kembali ke pribadi
    cuman gini mbak
    aku liatnya sekarang banyak manusia yang tak merasa seperti manusia
    tapi seperti Tuhan, seperti Gusti Allah dengan segala kesempurnaanya
    naudzubillah
    jadinya ya bisa kita saksikan sendiri
    padahal ya klo menyadari sebagai manusia biasa, ya ia akan bisa mengerti bahwa apapun agama yang dianut semua kembali ke jalan kebenaran
    asal yakin dan sungguh-sungguh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeap, seperti jargon tiga langkah luar biasa;
      mulai dari diri sendiri,
      mulai dari hal yang terkecil,
      dan mulai dari sekarang.

      Itulah kekuatan ilmu dibarengi akal manusia.
      Akal mengelola ilmu lalu mengekspresikannya seakan-akan itulah yang paling benar!
      Padahal berawal dari kebodohan (karena ketidaktahuan).

      Wah maaf nih mas, sepertinya di poin terakhir kita bersebrangan jalan hehehe.
      Memang benar semua agama berjalan pada jalan kebaikan, namun buat saya, Islam lah akhir dari kebenaran (asal yakin dan sungguh-sungguh).

      Tapi saya hargai pendapat mas Ikrom hehehe :D

      Delete
  12. Lewat Agama, Tuhan ingin mengarahkan manusia ke jalan kebenaran. Jika ada hal-hal yang membuat kita berpikir buruk terhadap Agama karena ulah pemeluknya, mungkin kita bisa lihat lagi, apakah itu memang diajarkan dalam Agama atau itu kesalahan pemeluknya? 😊

    Ehe, sedikit beropini 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih banyak! Opini Anda saya apresiasi :)

      Memang benar, kembali lagi ke inti ajaran agama tersebut seperti apa :)

      Delete
  13. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  15. MAsha Allah... terharuuu, sambil bertanya dalam hati, bisakah hati saya selapang ayahnya untuk menyikapi keyakinan anaknya? hiks

    kalau saya menyikapi isu agama, selama yang mengisukan orang Islam ya saya cuek, tapi kalau yang mengisukan orang non Islam, barulah saya minimal meluruskan.

    Beda banget mengajari orang nggak tahu dengan orang nggak mau tahu kan, biasanya non muslim memang nggak tahu, beda dengan Islam yang gitu deh heheheeheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iyaa, yang ga tahu dan memang ga mau tahu.
      Kalau sesama Islam, akhirnya masalah furu' (cabang) yang mana dari atas (para ulama) juga banyak perbedaan. Kebawah-bawahnya aja nih (kita), yang suka rusuh kudu sama semua. Padahal namanya beda guru yah~

      Kalau saya sih juga, aduh ga kepikiran. Karena akhirnya konsep dosa/pahala, neraka/surganya jadi beda :(

      Delete

Hello from the other side! Syukran so much sudah baca tulisan saya sampai akhir. Gimana? Silahkan ruahkan pendapat kamu~ ヽ(⌐■_■)ノ♪♬
Kalau gak komen, gimana aku bisa kenal kamu.


Maaf ya, komentar dengan link aktif tidak diperkenankan.

Instagram